16 Apr 2015

Tentang Mengamati dan Merasa Bahagia


Kita berulang kali menyerukan kekaguman pada tempat ini. Whitby, kota tepi laut di utara Yorkshire menjadi penutup yang sempurna untuk perjalanan kita. Bau laut mengingatkan kita pada makan pagi menyenangkan di tempat seorang teman di London. Seorang mahasiswa asing membuatkan kita tiram panggang dengan mentega dan bawang. Aku ingat waktu itu kau memintaku membuat masakan yang sama lain kali. 

Pantai. Langit biru. Matahari. Bukit. Rerumputan. Reruntuhan.

Kita berjalan di antara orang-orang. Aku sibuk menggoda anjing-anjing yang lalu lalang sementara kau memandang ke laut lepas. Aku tahu kau memperhatikan burung-burung itu. Dan ombak. Dan kapal-kapal yang lewat.

Tidak semua orang bisa mengamati hal-hal sederhana dan menjadi bahagia. 

Kadang semua orang sibuk melakukan apa yang dilakukan orang lain. Kadang orang-orang terlalu sibuk mengejar ini itu, hingga lupa memperhatikan bahwa dunia tidak berputar di sekeliling mereka. Seperti satu keluarga Amerika Latin yang kita temui di Abbey Road waktu itu. Seandainya mereka tidak terlalu heboh berpose, mereka akan tahu para pengendara merasa sebal menunggu mereka menyeberang. Setidaknya lima kali mereka menyeberang jalan legendaris itu dengan lambat, mengambil foto dalam berbagai pose dan bicara dengan berisik dan berebutan. Sementara kita hanya duduk di tepi jalan, mengamati mereka dengan mata terbelalak, menangkap suara klakson entah dari mobil yang mana. 

Mengamati mereka, kita tertawa geli bercampur heran tapi juga bangga. Sudah jelas bangsa kita bukan bangsa paling norak sedunia.

Di kesempatan yang lain kita berlama-lama mengamati binatang di Kebun Binatang London. Aku tidak akan lupa betapa kau bertahan melihat seekor ular memakan anak-anak tikus itu, satu demi satu. Sementara aku yang melihat dia melahap anak tikus pertama, langsung bergidik dan buru-buru menghampirimu yang sedang mengamati binatang sejenis kadal. Aku bercerita tentang anak-anak tikus yang malang tadi, tapi kau justru tertarik dan berpindah melihat ular itu, memperhatikan berapa anak tikus yang dia makan. Kau masih saja membujukku melihat pertunjukan mengerikan itu, tapi aku menolak mentah-mentah. Akhirnya ular itu selesai makan dan kau baru beranjak dari sana. Katamu, dia memakan lima ekor anak tikus dan sekarang bergelung kekenyangan. 

Mengamati adalah tentang melepaskan kendali. 

Mengamati adalah tentang membiarkan waktu membuka pelajaran-pelajaran baru.

Mengamati adalah tentang mengharapkan kemungkinan yang serupa kejutan.

Seperti reaksi kita ketika melihat monyet berbulu merah tiba-tiba mengambil bayi monyet dari punggung monyet abu-abu. Lalu seketika kita menyadari, bayi monyet itu memang sebenarnya anak monyet berbulu merah. Selama ini kita mengamati monyet abu-abu menggendongnya dan berpikir dia sedang menjalankan fungsi orang tua dengan sempurna. Tapi ternyata mengamati sedikit lebih lama membawa kita kepada fakta yang berbeda.

Dan sepanjang perjalanan kita mengamati, kita menemukan satu kupu-kupu bersayap transparan diantara puluhan kupu-kupu koleksi Rumah Kupu-Kupu di Kebun Bintang London. Kita juga cukup dikagetkan oleh tupai-tupai di St. James Park yang ternyata sangat agresif, padahal awalnya kita hanya mau melihat rumpun bunga daffodil. Memilih berkeliling dengan bis supaya lebih leluasa mengamati juga membawa kita menemukan bis tingkat merah berbentuk lucu yang membuatmu ingin menjitaknya.

Sayang di Whitby kita tidak punya banyak waktu. Kadang ketika melewati persimpangan, kita akan saling bertukar pandang. Kita masih ingin menjelajah, tapi kita tahu kali ini kita harus bergegas.

"Musim panas nanti kita kesini lagi," kau berseru dengan semangat. "Kita akan bermalam, lalu bangun saat hari masih pagi dan keluar melihat matahari. Lalu kita akan berkeliling menjelajah gang-gang kecil. Kita bisa bermain di pantai, lalu lari ke atas bukit, duduk di rerumputan sambil selonjoran dan makan es krim."

Aku tidak bisa tidak tertawa mendengar rencanamu. Musim panas nanti betapa banyaknya hal yang bisa kita amati. Mungkin kumpulan kuda di padang rumput itu. Mungkin juga deretan pria yang memancing di dermaga. Atau mungkin sekedar awan-awan yang berbentuk lucu. 

Betapa bahagia itu sederhana. Kita hanya perlu sedikit menarik diri, merasa puas dengan mengamati.