1 Mar 2016

Bandung Pada Suatu Pagi

Bandung hari ini mendung dan dingin.

Bertugas di Bandung selama beberapa hari, saya sengaja tidak menginap di hotel. Saya lebih memilih tidur di kos adik saya yang terletak di daerah Cikaso. Alasannya sederhana, saya ingin lebih banyak melihat Bandung. Tinggal di hotel tempat acara diadakan biasanya membuat saya malas kemana-mana. Jadi, kali ini, meskipun harus menempuh jarak yang lumayan sampai ke Ciumbuleit, tempat acara dinas diselenggarakan, saya sangat menikmatinya. 

Pagi ini saya berangkat menggunakan jasa ojek online. Naik motor selalu jadi kesukaan saya sejak remaja. Saya suka merasakan angin menerpa wajah saya dan mendengar suara-suara di sekitar. Yang paling penting, saya bisa melihat banyak hal lebih jelas dan detail. Saya baru sadar penangkal petir yang berbentuk seperti sate di Kantor Gubernur Jawa Barat sudah dicat biru. Terakhir kali saya kesana, 'sate' itu masih berwarna cokelat. Saya juga baru tahu kalau gedung megah dengan tulisan Pos Indonesia yang saya lewati tadi adalah Museum Pos Indonesia. Saya harus kesana nanti. Lalu, suara-suara, pagi selalu memiliki suaranya sendiri. Pagi ini saya mendengar tukang bubur memukul-mukul mangkoknya di mulut suatu gang sempit. Saya juga mendengar seru murid-murid sekolah menengah yang sedang main basket di lapangan. Saya berharap mendengar suara burung, tapi rupanya saya belum terlalu beruntung.

Naik motor di tengah Bandung yang kelabu pagi ini rasanya menyenangkan. Saya tidak hafal jalan-jalan mana saja yang saya lalui dari Cikaso sampai Ciumbuleuit. Selama ini pengetahuan saya tentang Bandung memang hanya sebatas Jalan Braga dan Jalan Riau. Jalan Braga masih menjadi the most charming street in Bandung, tapi Jalan Riau tidak pernah istimewa untuk saya. Bagaimanapun, saya bukan penggemar factory outlets dan butik-butik, meskipun mereka disembunyikan dalam bangunan-bangunan tua berarsitektur indah.

Untung saja pagi ini saya menemukan satu lagi jalan favorit saya, di area Kebun Binatang Bandung. Dari google saya baru tahu namanya adalah Jalan Taman Sari. Berdekatan dengan kampus Institut Teknologi Bandung yang tersohor itu, Jalan Taman Sari memiliki trotoar yang dipayungi rimbun pepohonan. Melihat sulur-sulur yang menjuntai dari tiap pohon, saya merasa sedang ada di kampung halaman. Di kota saya, Magelang, saya sering berjalan dari depan Akademi Militer sampai Pemakaman Giriloyo. Berjalan saja, tanpa maksud apa-apa, hanya sekedar merasakan teduh yang akhir-akhir ini sudah begitu jarang. Di tepi jalan itu, banyak tumbuh pohon mahoni tua yang konon sudah ada sejak jaman Belanda. Mungkin usia pohon-pohon mahoni itu sama tuanya dengan usia pohon asem londo di kawasan dekat alun-alun kota Magelang.

Saya rindu sekali berjalan kaki di bawah rimbun pepohonan seperti ini. Tidak perlu ke hutan seperti Sherwood Forest dulu, di Jalan Taman Sari pun rasanya cukup, sambil memasang earphone dan mendengarkan lagu. Di benak saya, setidaknya ada tiga lagu yang terbayang: Sabda Rindu yang dinyanyikan Tio Pakusadewo, Ini Rindu milik Mian Tiara dan Ada Di Sana oleh Danilla. Mungkin besok pagi saya akan berangkat lebih awal, memesan ojek online lagi, tapi kali ini berhenti sejenak di Jalan Taman Sari. Lalu saya akan berjalan-jalan sebentar, menikmati pagi di Bandung. Saya berharap besok Bandung masih mendung dan dingin.




No comments:

Post a Comment