20 Mar 2016

Pada Akhirnya, Tidak Ada yang Perlu Dilupakan

Untuk sekian banyak perjalanan yang telah mereka lewati, gadis itu merasa ia dijaga. Pemuda itu menjaganya. Ia diperlakukan dengan baik. Ia merasa aman.

Suatu waktu pemuda itu membawakan tasnya, padahal bawaannya sendiri tidak bisa dibilang ringan. Di waktu yang lain pemuda itu membelikannya donat, hanya karena beberapa menit sebelumnya mereka melewati toko kue dan gadis itu tiba-tiba mengatakan ia sudah lama tidak makan donat. Saat mereka bersepeda berdua, pemuda itu akan sering menoleh ke belakang untuk memastikan ia baik-baik saja dan tidak terlalu ketinggalan. Ah, tapi bukan tentang itu. Ini adalah tentang bagaimana pemuda itu membiarkannya menentukan batas. Ia gadis yang keras, pemuda itu juga. Tapi, batas adalah batas. Gadis itu tidak suka berkompromi.

"Kenapa kau tidak takut pergi berdua denganku?" tanya pemuda itu suatu kali. Mereka sedang bersepeda di suatu sore musim panas. Kawasan taman yang mereka tuju tidak terlalu ramai, di beberapa bagian malah tidak terlihat orang.

"Kenapa aku harus takut?" gadis itu balas bertanya.

"Karena aku bisa saja menarikmu ke semak-semak, lalu..."

Gadis itu tertawa. "Ah, kau ini ada-ada saja."

"Bagaimana jika aku sungguh-sungguh melakukan itu?"

"Aku akan berteriak lalu melaporkanmu ke polisi," sahut gadis itu santai. "Disini untuk kasus seperti itu hukumannya berat."

Pemuda itu tertawa. Pembicaraan absurd itu berhenti sampai disana. Gadis itu menemukan semak dengan buah-buah kecil asing, memetiknya dan memakannya begitu saja. Pemuda itu hanya menggeleng-gelengkan kepala keheranan. Ia sudah mengerti kebiasaan gadis itu memakan buah-buah aneh yang ia temui di jalan, tapi tetap saja ia berkata suatu hari nanti gadis itu bisa saja keracunan.

Tentang batas-batas, kadang gadis itu merasa pemuda ini mengujinya.

Pernah pemuda ini mengajaknya menonton Hitch, sebuah film yang dibintangi oleh Will Smith. Hitch adalah seorang dokter cinta yang mengajari trik-trik menaklukkan perempuan pada pria-pria yang menjadi kliennya. Pemuda itu bilang film itu banyak mengajarinya tentang bagaimana menaklukkan gadis-gadis. Gadis itu ingat dulu dia mencibir. "Ah, apa itu trik-trik aneh. Menurutku semua tergantung apakah seorang perempuan membiarkan dirinya ditaklukkan atau tidak."

Hal yang paling diingat oleh gadis itu adalah pelajaran tentang ciuman. Menurut Hitch, pria hanya perlu memberikan 90% dan wanita akan memberikan 10% sisanya.

Gadis itu mengerutkan dahi ketika pemuda itu bertanya apakah menurutnya teori itu benar.

"Aku tidak tahu," sahut gadis itu. "I've never been kissed."

Pemuda itu menatapnya dengan pandangan yang sukar diartikan.

"I spare my first kiss for my wedding day," gadis itu menjelaskan dengan ringan seakan itu bukan komitmen besar.

Pemuda itu terdiam sejenak, lalu berkata, "Bagaimana kalau sekarang aku memancingmu dengan yang 90% itu?" tanyanya lagi.

Gadis itu menjawab datar dengan nada final pada suaranya, "Bahkan kalau kau memancingku dengan yang 99%, aku tidak akan pernah memberimu 1% sisanya."

Pemuda itu tidak berkata apa-apa, tapi tiba-tiba ia mengarahkan tangannya menyentuh pundak gadis itu. Sedetik kemudian gadis itu memukul tangannya. Ketika pemuda itu menarik tangannya dan berteriak kesakitan, gadis itu tertawa keras sambil sekilas meminta maaf.

Ia tahu pemuda itu hanya menggodanya.

Sering gadis itu mengingat waktu-waktu yang mereka lewati hanya berdua. Perjalanan-perjalanan. Pembicaraan-pembicaraan. Kesunyian-kesunyian. Gadis itu tidak merasa ada bagian-bagian yang ia ingin lupakan. Ia simpan semua dalam tempat khusus untuk kenangan-kenangan bahagia. Ia senang pemuda itu menjaga dan menghormatinya di tiap kesempatan. Mungkin karena ia memang menjaga dan menghormati dirinya sendiri. Tapi mungkin juga karena, alih-alih bermain dengan batas-batas, mereka begitu sibuk dengan begitu banyak hal lain yang lebih menarik perhatian.




No comments:

Post a Comment