15 Mar 2012

Hari-Hari Tanpamu

Aku bahkan lupa sudah berapa lama kita tidak bersama. Atau, baiklah, sejak awal kita tidak pernah bersama. Hanya sedikit cerita tentang masa yang pernah kita lukis dengan satu dan dua warna. Itu saja.

Lalu kau pergi karena kau ingin melukis dengan warnamu sendiri.

Lalu hari-hari tanpamu adalah saat aku mulai belajar mendengar kembali nyanyian angin. Hari-hari tanpamu adalah saat aku belajar membaca senyum matahari. Hari-hari tanpamu adalah saat aku merajut kesendirian yang bersahaja. Saat bahagia bukan tentang apa yang kau dapat, tapi tentang menari di saat hujan turun dan tertawa melihat tak seorangpun tahu kau sedang menangis.

Entah sudah berapa lama namamu tidak menjadi penghuni tetap doa-doaku. Mungkin karena aku sudah tidak lagi menghitung hari dengan mengeja namamu. Sejujurnya, masih sesekali, hanya satu dua kali. Tapi kamu selalu jadi ucapan syukurku. Seperti yang kubilang dua tahun lalu, tentang satu perkataan Rasul Paulus yang entah kenapa kadang bisa jadi sangat romantis,

Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu.
(Filipi 1:3)

Setiap kali adalah setiap kali. Setiap kita bersama, setiap kita berpisah. Setiap kita tertawa, setiap kita merana. Setiap kita jatuh cinta, setiap kita terluka. Kamu adalah ucapan syukurku. Membebaskanku dari sesal kenapa dulu aku menggenggammu begitu erat. Membebaskanku dengan jejak langkahmu yang mengajarku bijaksana. Ternyata, aku sudah tak lagi sama.

Hingga aku tidak pernah bertanya kenapa aku tidak lagi menjalani hari-hariku bersamamu. Karena hari-hari tanpamu adalah hari-hari saat aku mendewasakan hatiku.



*aku masih belum bisa menatap matamu, pria kelabu.

2 comments: