5 Mar 2016

Masih Ada Kupu-Kupu di Bandung



Bertemu dengan Aan Mansyur adalah salah satu momen paling inspiratif di bulan Januari. Diskusi yang hanya sebentar di salah satu sudut Pasar Santa ini banyak membukakan mata saya tentang dunia kepenulisan. Salah satunya tentang seni mengamati. Penulis adalah pengamat. Semakin detil ia mengamati, semakin kuat tulisan yang dia buat. Tentang hal ini, Aan bilang begini, "Kau harus mau berjalan untuk dapat menangkap lebih banyak hal."

Di Bandung, saya membuktikan perkataan Aan.


Tujuan pertama saya adalah Braga, sebuah jalan dengan bangunan-bangunan tua yang menciptakan suasana khas Eropa. Saya memutuskan berjalan kaki dari Jalan Supratman, menyusuri Jalan Jenderal Achmad Yani, masuk ke Jalan Asia Afrika, terus sampai ke Jalan Braga. Bandung tidak semendung hari sebelumnya. Masih berawan, namun cerah. Saya berjalan sambil mengenang kunjungan pertama saya ke Braga, lebih dari lima tahun yang lalu. Perjalanan waktu itu adalah salah satu yang paling berkesan dan lucu.

Tapi kali ini saya lebih ingin bercerita tentang kupu-kupu.

Saya merasa dunia berubah, itu niscaya. Termasuk soal kupu-kupu. Dulu, saya masih sering melihat makhluk cantik ini beterbangan. Kadang sendiri, kadang berdua, kadang bergerombol. Mengejar kupu-kupu adalah salah satu kesukaan saya, bahkan sampai saya beranjak dewasa. Tapi beberapa tahun belakangan ini, mereka seperti lenyap. Terakhir saya melihatnya di Kebun Binatang London, dalam sebuah habitat buatan, dengan kupu-kupu yang sengaja didatangkan dari banyak tempat.

Tetap saja, mengamati kupu-kupu bersayap transparan disana tidak mendatangkan perasaan yang sama dengan perasaan yang muncul saat saya melihat kupu-kupu tanpa sengaja.

Perasaan yang akhirnya saya dapatkan kembali di jalanan kota Bandung.


Awalnya saya mengira kupu-kupu yang beterbangan di rumpun gelagah dekat rel kereta itu cuma sebuah kebetulan. Kebetulan yang saya dapat karena saat itu ada kereta hendak lewat. Terpaksa berhenti dan menunggu di depan pos penjagaan kereta tidak jauh dari Pasar Kosambi, saya justru melihatnya: kupu-kupu kecil bersayap kuning, terbang hilir mudik.

Saya menyimpan perasaan hangat yang dibawa kupu-kupu itu. Saya berpikir, bisa jadi saya tidak akan mendapatkan perasaan yang sama dengan segera.

Tapi Bandung justru menghujani saya dengan perasaan itu. Kota ini tidak hanya mempertemukan saya dengan banyak kupu-kupu, hampir di sepanjang perjalanan, tapi juga gerombolan capung dan satu dua ekor kumbang.

Gerombolan capung itu saya lihat di antara gedung-gedung tua di Braga. Banyak sekali, beterbangan di angkasa, bebas tak terjangkau. Pemandangan yang mengingatkan saya pada alun-alun kota saya bertahun-tahun yang lalu, saat saya masih berseragam putih biru. Belakangan, saya tak pernah lagi menemukan seekorpun capung disana. Betapa beruntungnya Bandung yang masih dicintai capung-capung.


Mungkin saya memang terlalu sentimentil. Menganggap kupu-kupu dan capung-capung sebagai bagian terbaik dari perjalanan? Aneh, kalau kata teman-teman saya. Tak apalah, karena bahkan saya sendiri tidak mengerti kenapa saya sering jatuh cinta pada apa yang biasanya terlewatkan, seperti kupu-kupu di sepanjang Jalan Merdeka, capung-capung di Jalan Braga, tiang lampu di Jalan Asia Afrika bahkan lumut yang membuat trotoar di Jalan Taman Sari bersemu kehijauan. Oh, jangan lupakan aroma yang menguar dari toko roti tua bernama Sumber Hidangan. Konon, toko ini sudah ada di Braga sejak akhir tahun 20an. Menunya pun masih banyak  menggunakan bahasa Belanda




Berjalan sendirian seperti di Bandung ini membuat saya berpikir. Sepertinya kegelisahan yang ditulis Aan Mansyur dalam puisi-puisinya di buku Melihat Api Bekerja adalah kegelisahan orang-orang yang ingin hidup di kota yang tidak membuat mereka tergesa. Dalam puisi Surat Pendek buat Ibu di Kampung, ia menulis, 'aku memilih tinggal di kota dan itu adalah hukuman'. Semua jelas, karena dalam bahasa Aan, kota tanpa ruang bermain adalah kota yang membakar dirinya. Di kota itu, orang-orang tak punya waktu menyapa tetangganya dan mereka hidup dalam kecepatan yang mengingatkan kita pada restoran cepat saji.

Menyedihkan.

Semoga yang dikhawatirkan Aan tidak terjadi. Ketakutan tentang suatu hari ketika 'orang membaca puisi tentang taman kota, mengunjungi museum burung, atau membaca dongeng tentang hutan-hutan yang hilang'.* Semoga yang terjadi adalah, kota-kota tetap akrab dengan rimbun pepohonan, hingga semua orang bisa berjalan lebih pelan, sekedar melewatkan waktu di taman atau menjadi pedestrian. Atau, seperti yang saya lakukan, memandang orang lalu lalang dari di salah satu bangku dekat titik Bandung 0 km, titik dimana Daendels dulu berkata, "Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd"**. Semoga semua orang perlahan menyadari hal-hal yang selama ini terlewatkan, menghitungnya diam-diam dan merasa bahagia. Karena ternyata Semesta punya cara memberikan bahkan apa yang tidak pernah mereka sangka.



Saya berharap sekembalinya ke Jakarta, saya masih punya waktu-waktu seperti yang saya lewatkan di Bandung, walaupun hanya duduk membaca, entah di kedai kopi atau salah satu sudut taman kota. Di Braga, saya memang sempat mampir di Wiki Koffie, memesan teh camomile dan  membaca Inteligensi Embun Pagi, seri terakhir Supernova karangan Dee Lestari. Dari sana saya berjalan lagi sampai ke Jalan Taman Sari, sebelum menutup hari dengan menyenangkan di Kineruku, sekali lagi.

Sepanjang kita masih punya kota seperti Bandung, percayalah, kita masih bisa disebut beruntung.






*Dikutip dari puisi "Seekor Kucing dan Sepasang Burung" dalam "Melihat Api Bekerja" karya Aan Mansyur.

**Bahasa Belanda yang berarti 'Coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota.' Diucapkan oleh H.W. Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda tahun 1808-1811. Ia mengatakan kalimat ini sambil menancapkan tongkat kayu di tempat yang kemudian menjadi titik 0 km kota Bandung. Semua ini tertulis dalam Prasasti Bandoeng km. '0' (Nol) di Jalan Asia Afrika.

No comments:

Post a Comment