2 Mar 2016

Kineruku: Perpustakaan dan Kumpulan Hal-Hal Menyenangkan

 

Bandung sedang menuju senja ketika saya sampai ke bangunan mungil di Jalan Hegarmanah ini. Serambinya yang temaram menyambut saya. Sekilas tidak ada yang istimewa, hanya lampu taman, rumpun bambu, juga dua bangku di teras depan. Tapi masuklah, kalau kamu mencintai buku, kamu tidak akan tidak jatuh cinta pada Kineruku.

Kineruku ini seperti kumpulan banyak hal-hal menyenangkan: buku-buku, musik indie, dan suasana bernuansa vintage. Ada banyak genre buku yang tersedia, mulai dari sastra sampai filsafat. Ah, tapi dasar otak saya ini pemalas, saya masih saja tidak tertarik pada buku-buku selain fiksi. Sayang saya tidak punya banyak waktu untuk benar-benar duduk dan membaca buku. Jadi akhirnya saya menelusuri rak yang memajang buku-buku dijual, menimbang-nimbang apakah saya harus membeli buku puisi Rieke Diah Pitaloka, sampai akhirnya menemukan kumpulan cerpen Gunawan Maryanto, Pergi ke Toko Wayang. Saya membawa pulang buku itu, bukan hanya karena edisi bertanda tangan, tapi lebih karena buku ini mengingatkan saya pada Bapak. Selain sepak bola, kegemaran pada pewayangan adalah salah satu warisan Bapak. Lagipula, saya tidak pernah menemukan buku ini di tempat lain. Aneh sekali.

Di Kineruku, berkeliling saja rasanya membuat saya bahagia. Di meja dekat pintu, penjaga kasir sibuk memberi label pada tumpukan CD yang sepertinya baru datang. Di ruang sebelah, seorang gadis muda duduk membaca sendirian. Di teras belakang, ada pasangan dengan laptop di hadapan. Sore itu, sambil melihat-lihat, saya mendengar suara Ari & Reda dari pengeras suara di langit-langit. Mereka menyanyikan puisi-puisi Sapardi. Nyanyian lembut mereka bercampur dengan obrolan riuh rendah sekelompok pemuda yang duduk mengelilingi meja di tengah ruangan. Di salah satu rak saya menemukan deretan CD musik. Bukan musik mainstream tentu saja. Beberapa musisi saya tahu, beberapa tidak.Tapi bahkan dari sampul albumnya saja, beberapa album menarik perhatian saya. Misalnya, album berjudul Kita Sama-Sama Suka Hujan, dengan ilustrasi stoples dan bunga biru di sampulnya. Ternyata itu album kolaborasi banda Neira dan dua grup lain. Saya jadi ingat saat saya mengunjungi toko milik Demajors, sebuah indie label, di kawasan Jakarta Selatan. Waktu itu saya dan Priska sok menebak-nebak apakah sebuah album bagus atau tidak, hanya dari sampulnya saja.



Saya meninggalkan Kineruku beberapa menit sebelum waktunya tutup, setelah sebelumnya mampir ke toko barang vintage di sebelahnya. Tapi, bahkan setelah pulang, saya masih penasaran sekali dengan arti nama Kineruku. Awalnya saya mengira Kineruku adalah kata bahasa Jepang, tapi google tidak menyediakan petunjuk apapun. Masalahnya saya sudah terlanjur penasaran. Lain kali kalau saya kesana lagi, saya akan menanyakannya. Mungkin pada teteh yang kemarin berjaga di meja kasir, atau pada lelaki keriting berkacamata yang saya duga adalah pemilik tempat ajaib ini.


Kineruku ini mengingatkan saya pada mimpi yang kadang iseng saya perbincangkan dengan Priska dan Mas Daniel. Mimpi tentang sebuah tempat dimana orang-orang bisa membaca buku, menyesap teh atau kopi, menyenandungkan balada-balada tua, dan, siapa tahu, jatuh cinta. Priska si arsitek sudah mulai merancang desain tempat impian kami. Mungkin nanti kami akan banyak berdebat untuk menggabungkan selera tiga kepala. Lalu, soal buku yang akan jadi koleksi, saya yang akan jadi pemikir utamanya. Mimpi ini yang membuat saya lebih menyukai toko buku daripada perpustakaan. Meminjam buku berarti harus mengembalikannya, padahal untuk mewujudkan impian kami, saya harus mempunyai cukup banyak buku. Terakhir, mas Dani, dia bertanggung jawab dengan urusan musik dan, mungkin, ekspresi kreatif lain. Saya bisa membayangkan mas Dani akan membuat pertunjukan musik akustik bersama teman-temannya, atau memimpin diskusi dengan Komunitas Kota Tua dimana dia menjadi anggota.



Kenapa saya serius sekali dengan mimpi ini? Karena bagi saya, di tengah selera pasar yang cenderung sama, baik untuk buku atau musik, mendapatkan alternatif seperti yang ditawarkan Kineruku mendatangkan perasaan nyaman. Saya tahu saya aneh, seperti yang sering dibilang oleh beberapa orang. Mungkin karena selera saya tidak seperti orang kebanyakan. Sudahlah, tidak apa-apa, setidaknya di Kineruku saya tahu saya tidak menjadi aneh sendirian. Semoga nanti tempat impian saya menciptakan efek yang sama.

 



No comments:

Post a Comment