17 Feb 2016

Surat #8: Untuk Laki-Laki Rembulan

Kita sudah saling mengenal sejak remaja, tapi aku tidak pernah tahu namamu berarti Rembulan. Adikmu yang memberitahu aku. Adikmu juga yang menceritakan bagaimana kamu jatuh cinta padaku dulu.

Kata adikmu itu, semua berawal ketika kita bertemu secara kebetulan di bis antar kota. Siang itu kita sama-sama dalam perjalanan pulang ke kota kecil kita. Duduk bersebelahan, kita banyak bercakap. Menurut adikmu, percakapan itu menggugah hatimu. Padahal seingatku, kita hanya bicara tentang hal-hal tidak penting, misalnya saja film Before Sunrise, novel yang sedang kita baca dan puisi-puisi kesukaan.

Terus terang aku sudah lupa tentang detail percakapan kita.

Sepertinya kamu tiba-tiba saja sudah duduk di depanku dan mengungkapkan perasaan. Perasaan yang tidak pernah bisa aku balas.

Mungkin karena kamu Rembulan. Rembulan yang tenang bergerak dalam kegelapan. Sunyi dan temaram. Sementara aku, aku mencintai Matahari. Matahari yang menyinari langit dan membuatnya kebiruan. Matahari yang hangat dan bersemangat.

Selama ini kamu menyebutku gadis hujan, karena katamu setiap kita bersama hujan selalu turun. Kamu menyukai hujan. Tapi bagaimana kalau hujan itu adalah pertanda kesedihan. Mungkin kesedihanmu. Mungkin juga kesedihanku.

Karena kamu selama ini begitu baik. Dan aku begitu keras kepala.

Tapi kamu dan kesabaranmu tetap merangkai kata-kata untukku. Dalam lembar-lembar berwarna biru. Dalam kepulan asap dari gelas-gelas kopi. Dalam setumpuk kenangan yang tak pernah dibicarakan. Selalu, kamu tulis puisi-puisi itu untukku.

Sementara aku selalu menulis tentang Matahari.

Berpuluh-puluh puisi kamu tulis, dan aku tidak pernah tahu kamu menulis tentang aku. Kupikir kamu bicara tentang gadis manis berpayung ungu yang sering lewat di depan kantormu. Lagipula gadis di puisi-puisimu bernama Maya. Dan namaku bukan Maya.

Tapi aku bisa mengerti kalau bagimu aku memang sekedar ilusi.

Rembulan, mengingatmu selalu mendatangkan perasaan manis. Pun bertemu denganmu, bicara di kedai kopi (walaupun aku tetap saja meminum teh), memperlihatkan daftar bacaan dan bertukar puisi. Meskipun bagiku kamu tak pernah jadi matahari, dan bagimu aku masih saja ilusi.

Tapi kamu tetap jadi Rembulan yang baik hati.

Ah sudahlah. Aku tidak tahu kenapa aku menulis semua ini.

Jadi bagaimana kalau kita bicara tentang Before Midnight. Dibandingkan Before Sunrise dan Before Sunset, film ini rasanya lebih rumit dan Ethan Hawke kelihatan jauh lebih tua. Bagaimana menurutmu? Apa kamu setuju?

Oh ya, kadang aku masih memutar Come Here dan A Waltz for A Night sambil menulis puisi. Kalau kamu, apakah kamu masih suka minum kopi dan menggali inspirasi di malam hari? Aku juga sedang membaca Tale of Two Cities milik Charles Dickens. Bagaimana denganmu? Buku apa yang sedang kau baca?

Dan bagaimana kabar gadis manis berpayung ungu itu?

Rembulan, aku berdoa antologi puisi yang kau tulis berikutnya sudah bukan lagi tentang aku. Semoga tentang rumpun bambu dan kersik daun yang menemanimu melewati malam. Atau tentang bintang yang meski redup tapi setia. Tentang apa saja. Asal bukan lagi tentang aku.

Semoga harimu indah. Semoga hujan tak lagi sering turun.





No comments:

Post a Comment