6 Aug 2015

Dia Yang Paling Mencinta

Dia yang paling mencinta adalah dia yang berdoa tanpa banyak bercerita. Tidak seorangpun tahu tentang doa-doanya, karena dia tahu, bahkan tanpa bicara, doa punya cara misterius untuk bekerja. Dia tidak menuliskan doanya agar orang-orang bisa membaca atau bahkan meneriakkannya keras-keras. Dia hanya menaikkan doanya dalam bisikan, di balik pintu tertutup, dan menjadikannya rahasia dengan sang Maha Mendengar. Tidak seorangpun tahu, tidak seorangpun perlu tahu, bahkan kamu yang dicintainya.

Dia yang paling mencinta adalah dia yang paling kuat menahan hatinya. Dia tidak merasa cinta harus dikatakan. Dia tidak merasa perlu jawaban. Dia bukannya tidak memberi pertanda, tapi dia mengerti sejauh mana dia perlu menunjukkan cintanya. Dia mencintaimu tanpa membebanimu dengan tuntutan. Dia menguatkan hatinya, membiarkanmu menemukan sendiri cinta itu, karena dia percaya semesta punya cara, dan cara itu lebih ajaib dari semua usahanya.

Dia yang paling mencinta adalah dia yang air matanya senyap. Dia tidak merasa perlu merengek-rengek atau berteriak meminta perhatian, pemahaman, bahkan pengakuan. Bagi dia mencintai sudah cukup dan menyerahkannya pada semesta sudah lebih dari cukup. Kadang dia akan melihat matahari terbenam dan mengingatmu, tapi dia membiarkan ingatannya lesap dalam kegelapan yang turun perlahan. Kau tak perlu tahu air matanya, karena bagi dia, tangisnya bukan salahmu. Mencintaimu adalah pilihannya dan dia bertanggung jawab pada hatinya sendiri. Sungguh, kau tak perlu tahu air matanya, karena sebenarnya air mata itu hanya caranya bercerita pada semesta.

Dia yang paling mencinta adalah dia yang cemburunya tertahan. Dia merasa tidak perlu menanyaimu tentang gadis-gadis yang memberikan waktunya untukmu. Dia tidak merasa perlu mengungkapkan kemarahannya ketika kau sibuk bercakap dengan gadis-gadis itu. Dia menyimpan cemburunya bahkan dari kamu yang dicintainya. Dia membiarkan kamu memahami cemburunya hanya dari sorot mata yang sebenarnya ia sembunyikan, atau dari diamnya yang kadang-kadang, yang sebenarnya tidak ia rencanakan. Dia mengerti, sebelum kamu menjadi miliknya, cemburu bukanlah pilihan. Dia menahan hatinya, menempatkan cinta sebagaimana seharusnya.

Dia yang paling mencinta adalah dia yang melakukan banyak hal untukmu karena dia tidak bisa tidak melakukan itu. Bukan hal-hal besar, hanya hal-hal yang kecil, seperti menemanimu, mendengarkan ceritamu, memasak kue kesukaanmu, membuatkanmu teh, atau sekedar menyuruhmu makan. Bukan karena dia ingin menunjukkan sesuatu, tapi karena dia tidak bisa tidak melakukan itu. Dia tidak melakukannya untuk menuntut perhatianmu, atau berharap dari situ kamu akan tahu. Dia hanya tidak bisa tidak melakukan itu. Tapi dia juga tahu bagaimana menahan dirinya dan membiarkan hari-hari kalian berlalu wajar sehingga kalian bisa saling mengenal tanpa tuntutan dan apa yang dia lakukan tidak membuatmu terbeban.

Dia yang paling mencinta adalah dia yang memberimu ruang dan memberimu kesempatan menyepi. Dia tidak menerjemahkan kesunyianmu sebagai luka dan menjadikannya penentu bahagia. Dia sadar dia harus sudah bahagia untuk bisa membuatmu bahagia. Dia membiarkanmu tertawa dalam duniamu - dunia yang mungkin dia tidak mengerti, dengan teman-temanmu - mereka yang mungkin dia tidak kenal. Dia tidak gelisah saat kamu harus menjadikannya prioritas kesekian, karena dia sadar, cinta tidak berarti menjadikanmu pusat dunianya dan begitu pula sebaliknya.

Dia yang paling mencinta adalah dia yang mencintai dengan mata terbuka. Dia mengetahui kelemahan-kelemahanmu. Dia tahu kebiasaanmu, marahmu, sedihmu, ketakutanmu, kegagalanmu. Dia ada bersamamu di saat kau begitu menyebalkan atau emosional. Dia mengenalmu dalam versimu yang terburuk sekalipun. Tapi dia mencintaimu dengan penerimaan dan kesabaran yang hanya bisa dipahami oleh lilin kepada api. Dia jatuh cinta padamu seiring waktu, bukan hanya karena berpapasan di tangga atau beradu pandang di beranda. Dia jatuh cinta pada dirimu yang sesungguhnya, bukan pada kamu dalam bayangan dan imajinya. Bahkan bukan pada cinta itu sendiri. 

Tapi dia yang paling mencinta adalah dia yang tidak membiarkanmu menjadi orang yang sama. Dia tidak akan menuruti semua kemauanmu kalau itu tidak menolongmu menjadi pribadi yang berbeda. Dia akan mempertanyakan keputusan-keputusanmu karena dia ingin mengajarmu bijaksana. Dia akan menunjukkan kesalahan dan menegurmu, tapi tetap memberimu banyak kesempatan. Dia tahu bagaimana bekerjasama dengan waktu memunculkan kamu yang mungkin bahkan dirimu sendiri tidak pernah tahu.

Sehingga dia yang paling mencinta adalah dia yang akan mendorongmu menggapai mimpimu. Dia percaya pada kemampuanmu, mengeluarkan apa yang terbaik dari dirimu. Dia mendorongmu berdiri, menegakkan kepala dan berani memandang ke depan. Dia akan memujimu saat kau berhasil dan menenteramkanmu saat kau gagal. Dia memberi semangat dan mendorongmu berjalan lebih jauh atau melompat lebih tinggi. Dia akan berkata bahwa keajaiban itu ada dan apa yang sulit bukan berarti mustahil. Dia akan mengusahakanmu mencapai mimpimu, walaupun dia sendiri mungkin tidak menjadi bagian dari mimpi itu. Tapi dia sendiri akan berjalan meraih mimpinya, tanpa takut kehilanganmu. Dia sangat tahu, jika kalian nanti benar bersama, mimpi-mimpi itu akan dinikmati berdua.

Sebab dia yang paling mencinta adalah dia yang paling berani melepasmu. Dia tahu menggenggammu erat-erat akan menyakitimu dan melukai dirinya sendiri. Dia mencintaimu dengan berani. Dia memandang ke depan dengan senyuman, ada atau tidak ada kalian berdua disana. Dia tahu dia harus kuat karena, jika kalian nanti bersama, kekuatannya akau menguatkanmu. Atau, jika semesta ternyata tidak menuliskan kalian dalam rencananya, dia juga ingin kamu kuat melepasnya.

Dia yang paling mencintaimu adalah dia yang tahu, mencintaimu bukan tentang dirinya, mencintaimu adalah tentang dirimu.



No comments:

Post a Comment