5 Aug 2015

Cinta Seperti Mereka




Saya tidak selalu rindu rumah. Mungkin karena saya sebenarnya seorang gypsy at heart, seperti yang dikatakan oleh Delta Goodrem, "I need to keep traveling, being a gypsy, having experiences and writing about them."

Tapi setiap saya berada di rumah, saya bahagia. Salah satunya karena di rumah ada cinta. Saya melihatnya dalam pelukan Bapak kepada Ibu saat mereka tidur berdampingan pada hari-hari mereka yang sudah senja, juga dari kesetiaan Bapak mengantar dan menjemput Ibu dengan motor yang usianya separuh usia saya. Cinta itu demikian jelas, sejelas kesabaran Ibu menyesuaikan diri dengan selera makan Bapak yang masih saja rumit, sejelas kerelaannya memberikan waktu mendengarkan kemauan Bapak yang kadang sukar dimengerti. 

Bahkan cinta itu juga ada dalam pertengkaran-pertengkaran kecil mereka, yang setelah sekian puluh tahun bersama, ternyata masih dua pribadi yang berbeda. Tapi bahkan tanpa kata, cinta itu bisa menerjemahkan setiap tarikan alis atau kerutan di dahi. Sebegitu sederhana. Sebegitu ajaibnya. 

Cinta itulah yang mengiring kaki saya melangkah meraih mimpi-mimpi.

Saya pergi membawa cinta mereka, merayakannya di setiap sudut tempat-tempat yang saya kunjungi. Tidak hanya di kota-kota bercahaya seperti Paris, London, Amsterdam, atau Los Angeles, tapi juga di desa-desa sunyi.

Saya melihat cinta seperti mereka pada pasangan tua yang menghabiskan waktu duduk-duduk di taman kota atau berjalan berdampingan di bawah rinai gerimis. Pun saya melihat cinta mereka dalam awan-awan yang berarak, atau kemilau senja di permukaan sungai. Karena cinta seperti mereka adalah cinta yang memilih bertahan seiring masa dan hanya akan mengalah pada kekuatan usia.


No comments:

Post a Comment