9 Jun 2015

Bagaimana Kau Mengatakan Rindu

Aku tidak pernah memikirkan tentang rindu, apalagi mengatakannya. Mungkin karena pertemuan kita adalah niscaya meskipun memang ada jeda. Tapi mungkin rindu yang membuatmu mengirim pesan singkat itu, "Kau dimana? Aku ingin mengajakmu menonton film." Aku tidak ingat kau pernah seperti ini sebelumnya. Kalau saja kau tidak mengajakku menonton horor, aku pasti sudah mengiyakan ajakanmu. Akhirnya kita sepakat menundanya sampai film tentang dinosaurus rilis minggu depan.

Tidak semua orang bisa mengatakan rindu. Beberapa orang akan mengatakannya dengan bahasa yang berbeda. Mungkin kau salah satunya. Bagaimana kau mengatakan rindu adalah dengan menyuruhku datang lebih awal dari jadwal kita pergi ke festival di tepi sungai. Katamu, "Kita sarapan dulu baru setelah itu berangkat." Atau, bagaimana kau mengatakan rindu adalah dengan menyuruhku tinggal lebih lama. Katamu, "Tunggulah sampai waktu makan malam. Setelah itu kita masih bisa ngobrol-ngobrol. Lagipula bis terakhir masih beberapa jam lagi. Aku akan mengantarmu menunggu bis nanti."

Tapi aku terbiasa menerima apa yang di depan mata, bukan tipikal pembaca pertanda. Aku tidak memahami caramu mengatakan rindu. Sampai hari itu...

"Karena aku masih rindu!" katamu spontan, tak terencana, di sela-sela pertengkaran saat aku berkeras ingin pulang dan memaksamu memberi alasan kenapa aku harus tinggal. Kau berdiri di depan pintu, menahanku. Aku tercekat, tapi terlalu marah untuk mengatakan hal yang sama. Aku tetap memutuskan pulang.

Seandainya kau tahu, sejak hari itu aku banyak berpikir tentang rindu. Memikirkan bagaimana caramu mengatakannya. Sebegitu tak pahamnyakah aku sampai hari itu kau harus mengatakannya dengan bahasa yang bukan bahasamu?




#NulisRandom2015
#HariKedelapan

No comments:

Post a Comment