30 Apr 2016

Va Dove Ti Porta Il Cuore

Pemuda itu bertanya tentang kemana sebaiknya dia melangkah nanti. Apakah ke kota sunyi dengan banyak kastil, kota di tepi pantai dengan camar beterbangan, atau kota tempat mereka pernah melihat lukisan bulan purnama.

Va dove ti porta Il cuore. Begitu jawab gadis yang menjadi lawan bicaranya.

Pemuda itu memutar kedua bola matanya. Setiap gadis itu mengeluarkan istilah-istilah asing, ia selalu tidak tahu harus menjawab apa. 

Gadis itu tertawa. "It's Italian. Artinya, 'pergilah kemana hati membawamu'...", ia menjelaskan.

Pemuda itu semakin tidak tahu harus menjawab seperti apa.

Untuk kesekian kalinya pemuda itu menemukan betapa gadis itu menelan perasaannya sendiri. Pemuda itu tahu benar kota mana yang ada di pikiran gadis itu. Mereka punya kenangan disana. Sebuah kunjungan singkat yang menyenangkan. Tidak hanya karena lukisan bulan purnama yang mempesona di galeri kota, tapi juga karena kontur kota yang berbukit, dan gedung-gedung yang - menurut gadis itu - seperti gedung-gedung di kota kesukaannya.


Disana mereka sempat berbagi cerita di atas jembatan, sementara sungai mengalir tenang di bawahnya. Di kejauhan tampak bangunan semacam kastil dengan bendera di puncak menara. Mereka pernah merencanakan akan kembali.

Sebuah keinginan yang belum sempat mereka penuhi.

Pemuda itu tahu kalau dia kembali ke kota dengan lukisan bulan purnama itu, maka ada harapan gadis itu yang juga akan menjadi nyata. Pemuda itu bisa mengerti kalau si gadis berkeras agar ia melangkah kesana.

Tapi lagi-lagi gadis itu hanya menyuruhnya mengikuti kata hatinya.

Dalam hati pemuda itu bertanya-tanya, berapa banyak hal yang tidak ia ketahui. Berapa banyak hal yang gadis itu simpan sendiri. Karena belakangan dia baru tahu gadis itu sering menyembunyikan air mata. Air mata yang sebenarnya sangat jelas. Tapi dia tidak pernah sadar.

"Bagaimana aku bisa tidak tahu?" tanyanya.

"Memangnya kau peduli dengan hal-hal seperti itu?" gadis itu justru balik bertanya.

"Mengapa kau tidak menceritakannya padaku?" ia bertanya lagi.

"Apakah itu akan membuatmu lebih peduli?" gadis itu masih balik bertanya.

Lalu sekarang, setelah semua yang terjadi, gadis itu masih menyuruhnya mengikuti kata hatinya. Va dove ti porta il cuore. Ini frase pertama dalam bahasa Italia yang ia hafal dan tahu artinya. Selama ini ia hanya tahu istilah-istilah di pertandingan sepak bola.

Pemuda itu memikirkan jalan ke kota dengan lukisan bulan purnama itu. Tidak mudah. Jauh di dalam hatinya ia ingin, hanya tak yakin mampu. Tapi di ulang tahunnya yang baru lalu, gadis itu menuliskan harapan untuk hidupnya, "I want to see you live a life you are passionate about". Jadi, ketika pada akhirnya ia tidak melangkahkan kaki kesana, ia tahu gadis itu akan tetap mengiring langkahnya dengan bahagia. Seperti biasa. Selama ia pergi kemana hati membawanya.




No comments:

Post a Comment