22 Oct 2014

Kadang, Kita Hanya Perlu Melompat Keluar Dari Perahu.

Dulu saya pernah membaca tentang seseorang yang selama hidupnya tidak pernah melakukan perjalanan karena dia terlalu banyak mempertimbangkan. Dia mempertimbangkan kesibukan, isi tabungan, juga tantangan berkelana sendirian. Pendek kata, dia memikirkan apakah keluar dari zona nyaman itu bijaksana.

Mempertimbangkan tentu tidak salah. Tapi, kalau terlalu banyak, bukankah itu seperti menyembunyikan hidup dari kejutan? Kadang mempertimbangkan justru membuat kita ketakutan. Lalu akhirnya kita memutuskan menjalani hidup tanpa petualangan. Kalau seperti ini, siapa yang bisa menjamin kita tidak menyesal?

Mungkin karena saya seorang yang spontan, saya sangat setuju dengan Lewis Caroll,

"No, no! The adventure first, explanations take such a dreadful time,"


Mungkin karena itu saya langsung membeli tiket konser Michael Buble di Birmingham bulan Desember nanti. Mungkin karena itu pula saya sangat impulsif membeli tiket promo ke Irlandia. Iya benar, uang saya terbatas, dan saya juga punya banyak tugas yang harus diselesaikan. Tapi saya sungguh tidak bisa hidup dengan what ifs and maybes. Siapa yang bisa menjamin Michael Buble akan konser lagi di Inggris ketika saya masih ada disana? Atau kapan lagi saya bisa ke Irlandia dengan tiket semurah ini? Oke, musim panas? Tapi di musim panas saya seharusnya ke Provence melihat bunga matahari dan lavender. Belum lagi mengunjungi Festival La Tomatina di Spanyol dan October Fest di Jerman. 

Betapa hidup saya penuh agenda petualangan.

Jadi ketika hidup memberi saya kesempatan, saya sudah tidak butuh banyak pertimbangan. Atau saya akan menyesal.

Saya bukan ingin mengatakan, kita sama sekali tidak perlu mempertimbangkan. Kita semestinya tahu batas. Batas saya adalah bucket list ini. Berada setahun di Eropa, dengan begitu banyak tempat dan peristiwa menarik, saya cuma punya 10 keinginan: 10 impian masa kecil, saya menyebutnya. Karena bucket list itu, saya batal melihat Liverpool - Real Madrid di Anfield karena bucket list saya adalah El Classico, dan harga tiket kedua pertandingan itu sama mahalnya. Saya harus memilih salah satu. Saya memilih bucket list saya, impian masa kecil saya.

Tapi tentu saja saya tidak menolak kejutan-kejutan kecil di tengah perjalanan. Seperti menemukan tiket murah ke Basel, Swiss. Dan kebetulan saya tidak perlu visa kesana. Dengan harga tiket yang masih ramah untuk kantong, saya mengambil kesempatan ini, meskipun tidak ada dalam bucket list. Untuk menghemat, saya mencari tempat menginap gratis dengan couch surfing. Orang yang saya minta menjadi host tidak bersedia, tapi ada orang lain yang menawarkan kamarnya untuk ditempati. Kalau saat itu saya mempertimbangkan harga hostel yang mahal di Basel, saya tidak akan pergi kemana-mana, padahal hidup, dengan misterius, sudah siap memberi saya banyak kemudahan.

Saya jadi ingat kepada Rasul Petrus. Dia adalah satu-satunya murid Yesus yang merasakan berjalan di atas air. Banyak orang yang mencibir karena pada akhirnya dia hampir tenggelam. Tapi dia berjalan di atas air! Murid-murid  lain tidak mengalami ngerinya hampir tenggelam, tapi mereka juga tidak tahu bagaimana menakjubkannya ketika hukum Archimedes tidak berlaku di tubuh mereka. Meskipun hampir tenggelam, berjalan di atas air adalah something worth to try.

Dan semuanya karena Petrus berani keluar dari perahu.

Mungkin karena tiket Michael Buble, saya harus banyak-banyak menghemat. Mungkin karena perjalanan ke Irlandia dan ke Basel, saya harus memaksa diri menyelesaikan tugas-tugas saya sebelum akhir tahun. Tapi, semua itu sebanding dengan apa yang saya nikmati ketika satu demi satu bucket list saya terpenuhi.

Saya tidak tahu bagaimana denganmu, tapi hidup terlalu berharga untuk dihabiskan mengurusi hal yang tidak serius. Buat saya, mewujudkan impian adalah hal yang serius.