29 Aug 2012

Terapi Kata

Ada yang benar-benar telah pergi.

Dan aku menemukan diriku bersembunyi di kedai kopi. Secangkir hazelnut. Secangkir cokelat. Tapi tak pernah kopi. Ada cinnamon roll yang baunya mengingatkanku pada toko roti kecil di kota paling indah yang pernah kukunjungi.

Aku mulai mengetikkan kisah-kisah. Semua yang adalah  terjemahan dari perasaan. Perasaan yang beterbangan seperti kupu-kupu, jauh di kedalaman hati. Perasaan yang membawa nyeri.

Tapi kata-kata dalam kisah itu lebih menyembuhkan dari air mata
 
Dalam hal ini, Anaïs Nin benar, “We write to taste life twice, in the moment and in retrospect.”


*membaca koran minggu dan merasa ditampar oleh Remy Silado. "Inspirasi itu bukan dicari, tapi dipaksa!"

No comments:

Post a Comment