2 Jan 2015

When We Are Home

It is still quite sometimes before we are home, but to plan what we will do later is part of the fun. Or, well, maybe it's just me who think it is... But, after doing some part of our Euro trip, it turns out that I really want to explore my own country, not for what I call "business trip" but for the sake of the journeys itself. It's shameful to know that I've been to most of my country's provinces, but still I don't know it well. So, yes, adventures awaits!

Then these are the things that we want to do when we are finally home, maybe in the next 10 months:

- Climbing the mountain

This is the kind of activity that I have never done before. I am not that brave when it comes to adrenaline. My favourite amusement in Dunia Fantasi is Istana Boneka, which is quite embarasing since I am that afraid to take a ride on roller coaster. When all of my friends are very excited to try any dreadful things in the amusement park, I am content enough just to sit, wait for them and read any books I have in my bag. 

Thus, for me climbing the mountain is very challenging, though I know it's just like an usual afternoon walk for some people. But for me personally, it's like saying to your self that comfort zone is not a good place to grow, yet to get out from that comfort zone is indeed not comfortable. I've even heard that climbing the mountain is like a fight with your own self, whether you will persevere and finish your journey or just be satisfied with whatever result you get.

But still, no matter how challenging it is, life is too short to be spent in such a boring way^^ I have decided then.

- Getting diving license

This is my friend's idea. He thought that we were just too old to climb the mountain, then suggest this adventure. He said that height is somehow too mainstream recently, and suggested depth as an alternative. Well, actually he also mentioned sharks and other scary things about the sea that sounded too much for me. I can't swim and the idea of diving itself is challenging enough, let alone all the sharks and their friends.

And btw, since my friend wants his name to be mentioned here (in the hope that it will appear if someone search his name in Google >.<), I dont think that's a good idea, so I will only mention his initial which is MTA. Well he thinks he is cute and kind, but well, if you want to know the truth, there's nothing better than knowing him in person. The good news is... he just got back on Facebook, so you can just drop me a message if you're interested :p

image taken from here

- Doing island hop.

We have more than 17.000 island and we're still trapped in all those 5 biggest ones. I know it's almost impossible to visit all the islands considering poor infrastructures. But, even, one of the most popular one, an island that has been on my travel agenda for years, is still waiting... It is Belitong, and it will be our first destination. Thinking about its blue beach, white sand and the sun, I'm just as exciting as when I think about Provence and its sun flower field^^

Three are not too many right? Let cross our finger and hope that life is kind enough to let us continue our journey in the place near to our heart, the place we call it home.

23 Dec 2014

Bagaimana Saya Jatuh Cinta Pada Dublin - 2

Dublin adalah kota pertama dengan predikat UNESCO City of Literature yang saya kunjungi. Hanya ada 6 (enam) kota lain di dunia yang menyandang predikat yang sama: Norwich, Edinburgh, Reykjavik, Kraków, Heidelberg, Melbourne, Iowa City, dan Dunedin. Memang tidak banyak kota yang mengasosiasikan dirinya dengan sastra dan literasi. Tapi Dublin berbeda. Mungkin memang saya yang kurang pengalaman, tapi saya belum pernah melihat kota yang memberikan apresiasi begitu tinggi pada para penulisnya.

Mereka yang mencintai sastra pasti akan suka berada di Dublin. Menjadi rumah banyak penulis kawakan, Dublin sangat layak memiliki Dublin Writers Museum. Lalu, seperti sahabat saya yang begitu mengagumi James Joyce, begitu pula kota ini. Dublin dan Joyce seperti dua sisi mata uang. Dublin adalah kecintaan Joyce dan Joyce adalah kebanggaan Dublin. Sayang, ketika saya berada disana, Dublin Writers Museum maupun James Joyce Centre sedang tutup karena libur natal. Tapi, saya sudah cukup bahagia karena saya sempat pergi ke James Joyce Tower and Museum yang terletak di Sandycove, sebuah area suburban Dublin.


Bagaimana Saya Jatuh Cinta Pada Dublin - 1

Mungkin jatuh cinta pada Dublin memang harus pelan-pelan. Dia tidak tampan luar biasa sampai membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Walaupun Dublin bukan pesolek seperti Paris, jelas dia sangat menarik hingga akhirnya saya memutuskan tinggal. Ketika teman-teman saya pulang ke Inggris, saya menambahkan tiga hari di Dublin. Dan Dublin memang mempesona. Tiga hari tentu saja tidak cukup mengenal semua tentang kota ini. Tapi ternyata kota ini begitu memahami saya.

Walter Mosley dulu pernah berkata, “A man’s bookcase will tell you everything you’ll ever need to know about him.” Saya anggap itu benar. Maka saya menyempatkan diri melihat ‘rak buku’ Dublin. 'Rak buku' pertama adalah perpustakaan Trinity College yang tersohor: The Old Library. Saya harus merelakan anggaran belanja tiga hari untuk memasuki tempat ini. Tapi sebagai salah satu perpustakaan yang wajib dikunjungi, saya tahu saya hanya dihadapkan pada dua pilihan: penghematan beberapa hari ke depan atau penyesalan.

Saya paling tidak ingin menyesal.


17 Dec 2014

Dublin dan Fragmen-Fragmen

Kalau saya harus mendeskripsikan masa-masa berseragam putih biru dalam tiga kata, maka saya akan memilih kata-kata ini: buku harian, impian dan Westlife. Di masa ini saya mulai menumbuhkan kebiasaan menulis di buku harian yang sebagian besar isinya adalah tentang mimpi-mimpi. Di masa ini pula saya mengalami fase wajib remaja generasi 90an: menjadi fans boyband yang saat itu sedang trend. Entah kenapa, saya jatuh cinta dengan Westlife. Hampir seluruh dinding kamar saya penuh dengan poster dan pin up mereka, standing image ke-5 personilnya berjajar di atas meja, dan di rak buku, album-albumnya tersusun rapi bersama tumpukan majalah edisi khusus Westlife. 

Sudah 14 tahun sejak saya menyanyikan "Swear It Again" di ujian praktek kesenian SMP, tapi tetap saja, kadang saya masih memutar kembali lagu-lagu mereka dan mengenang masa-masa berseragam putih biru. Sekarang saya sedang di Dublin, mendengarkan lagu-lagu Westlife (seperti yang saya inginkan di bucket list no. 10) dan bertanya-tanya dimana kira-kira di kota ini Nicky Byrne tinggal. Ah, tapi tentu saja bertemu Nicky tidak sesederhana pertemuan Jonathan Trager dan Sara Thomas di film 'Serendipity'. Kalau dulu, melihat konser Westlife di Jakarta dari layar RCTI sudah lebih dari cukup, maka dua hari ini, berkeliling kota Dublin membawa perasaan "Nicky juga pernah disini..." rasanya juga sudah lebih dari cukup.

8 Dec 2014

Teman Perjalanan: Travel Bloggers Indonesia

Belakangan, banyak artikel yang bicara tentang nikmatnya solo traveling. Mereka bilang solo traveling menyenangkan karena kita bisa benar-benar menjadi pengambil keputusan, jam berapa mau kemana berapa lama, semuanya terserah kita. Oh iya, itu benar. Tapi melakukan perjalanan bersama-sama pun tidak kalah menyenangkan. Perjalanan yang dibagi bersama akan menjadi kenangan bersama. Sampai puluhan tahun kemudian, cerita-cerita tentang perjalanan itu masih akan beredar di pertemuan-pertemuan nostalgia, ditemani sepiring singkong goreng dan teh manis hangat.

Mungkin karena itu komunitas travel banyak muncul. Karena menikmati perjalanan bersama teman itu menyenangkan. Karena berbagi cerita sesama pejalan berarti tidak hanya berbagi pengalaman, tapi juga tempat para pejalan bisa belajar. Karena traveling bukan hanya tentang melihat dunia, tapi juga tentang interaksi dengan manusia yang berbeda-beda. Oh ya, tentu saja, karena dunia ini terlalu luas untuk dijelajahi sendiri. Kaki kita tidak mungkin menapaki seluruh kota, menaiki seluruh gunung, atau menyelami semua danau dan lautan. Mata kita juga tidak mungkin melihat semua hutan dan padang. Mulut kita juga tidak bicara semua bahasa. Tapi kisah-kisah dari teman-teman perjalanan akan membawa kita menuju tempat-tempat yang belum pernah kita jelajahi.