3 Feb 2015

Bruges dan Kenangan

Hai, Petualang. Apa kabar? Semoga kamu sudah bisa sedikit menarik napas dari kesibukan.

Aku sedang di Bruges sekarang. Akhirnya ada sesuatu yang membuatku betah di Belgia, setelah Brussels yang kumuh dan Antwerp yang riuh. Seandainya aku tahu, mungkin aku akan melewati kedua kota itu dan langsung naik kereta dari Luxemburg ke Bruges.

Iya, iya, aku bisa membayangkan kamu mengatakan, "I told you..." sambil mengetuk kepalaku. Aku tidak sepertimu, yang selalu terencana dan mempersiapkan segala sesuatu dengan rapi. "Banyak-banyak riset sebelum berangkat," katamu waktu itu, dan aku hanya menggangguk tanpa pernah benar-benar mendengarkan. Pikirku, perjalanan ini cuma seminggu dan terus terang, Eropa jarang menawarkan kejutan yang seperti kembang api. Jadi aku hanya sekedar membuat rencana perjalanan, dari kota ke kota tanpa mencari tahu apakah tempat-tempat itu cukup layak mendapatkan waktu liburku yang berharga. Kau tahu, beberapa kota dalam daftar ini sudah pernah kukunjungi.

Kalau bukan karena temanku yang baru sekali ke Belgia aku tidak akan memasukkan Brussels dalam daftar. Aku masih tidak menemukan sesuatu yang menarik dari kota ini. Manekin Pis, patung si bocah pipis yang terkenal itu sangat kecil, tersembunyi di salah satu pojok pusat kota. Memang di pusat kota ada wafel dan moules - masakan kerang - yang lezat, tapi berada di sebuah kota dan hanya berkeliling di pusat kotanya rasanya menyedihkan. Masalahnya jika kita bergerak sedikit ke tepi, kita hanya akan menemukan pemukiman tak terawat dan lorong-lorong bau pesing.

Bruges benar-benar menebus semua itu.


Sekali lihat, kamu pasti akan tahu kota ini akan jadi favoritku. Rasanya seperti masuk ke mesin waktu. Aku tahu kamu pasti akan suka dengan jalanan batunya yang sempit dan aku akan jatuh cinta dengan bunga-bunga di jendela. Toko-toko kue dan cokelat mungkin bukan seleramu, tapi aku sangat rela berat badanku naik untuk mencoba potongan-potongan yang menggoda itu. Kalau kamu disini, kamu pasti harus memaksaku meninggalkan etalase toko yang menjual pernak pernik rumah berhias renda Belgia. Andai saja aku punya cukup uang untuk membawa pulang semua itu.

Petualang, kau pasti tidak akan terkejut kalau aku suka kota ini karena kota ini romantis. Tidak, ini bukan tentang fakta bahwa di kota ini banyak terdapat kissing spots atau patung kodok mungil yang bila dicium oleh 1000 turis akan berubah menjadi pangeran atau putri yang akan membawakan ranselmu. Tidak, itu romantisme yang aneh. Aku suka kota ini karena dia romantis dengan caranya yang bersahaja. Tidak perlu banyak aturan, letakkan saja sepeda di depan jendela dan dia akan terlihat romantis dengan sendirinya.

Ok, ok, aku tahu kamu bukan penggemar romantisme. Aku akan berhenti sampai disini atau, seperti yang kamu sering bilang, kita akan terkapar karena diabetes. Tapi aku sungguh tidak menemukan kata lain untuk menggambarkan kota ini. Misalnya saja, berjalan dari stasiun sampai ke pusat kota, kamu akan melewati jalanan kecil dengan sungai dan pepohonan di tepinya. Jalanan itu akan membawamu ke sebuah biara tua, tidak banyak yang bisa dilakukan disana selain menikmati kesunyian. Sungguh, berjalan di kota ini, melihat angsa-angsa di kanal dekat biara, aku tidak bisa tidak mengingatmu. Kamu pasti akan suka tempat ini, seperti kamu jatuh cinta pada taman di kota kita, tempat burung-burung berkumpul dan kamu bisa memberi mereka makan. Aku membayangkan kita duduk di tepi kanal, bicara tentang apa saja: masa kecil, lagu kesukaan, impian dan banyak rencana perjalanan.

Aku beruntung datang ke Bruges saat musim dingin, setidaknya kota kecil ini tidak terlalu ramai. Kau tahu, rasanya aku lebih bersahabat dengan sunyi. Di kota ini kamu selalu bisa menemukan tempat untuk sendiri. Seperti saat berada di ketinggian dekat gerbang kota, melihat senja yang jatuh di atap-atap bangunan dan mengubahnya menjadi bayangan.

Senja di kota ini, salah satu senja terindah yang pernah kulihat. Memandang senja itu, aku teringat suatu sore saat kita berdebat tentang mana yang lebih menakjubkan: fajar atau senja. Katamu, fajar bercerita tentang harapan yang tidak dibawa oleh senja, dan aku berkeras bahwa senjalah yang mengawetkan fajar dalam kenangan. Aku tahu, waktu itu kita hanya cukup sombong untuk mengakui bahwa fajar dan senja, begitu juga dengan kenangan dan harapan, adalah sahabat yang lebih senang berjalan bersama. Seperti kita yang saat ini menempuh perjalanan sendirian, membawa kenangan tentang satu sama lain dan harapan tentang senja dan fajar yang nanti dilewatkan bersama.





Bicara tentang kenangan, kota ini sepertinya tidak ingin beranjak darinya. Dalam peta yang kudapat cuma-cuma di biro wisata, aku membaca bagaimana mereka tidak membuka pintu pada restoran-restoran cepat saji. Tentu saja, untuk apa membeli kentang di restoran itu kalau disini kita bisa menemukan kedai yang menjual frites - kentang goreng - khas Belgia dengan saus mayonaise hampir disetiap lorong. Kata mereka, Starbucks di Bruges terlihat menyedihkan dibandingkan dengan kedai kopi milik perorangan yang banyak tersebar di kota. Mungkin Bruges memang mengajak kita memaknai apa itu kenangan, seperti menaiki perahu yang pelan-pelan menyusuri kanal. Banyak orang merasa hidupnya berlalu kelewat cepat, tapi mungkin saja mereka memang tidak pernah tahu caranya berhenti atau berjalan pelan.

Berjalan pelan di Bruges membuatku bisa kembali menulis puisi. Kamu memang bukan orang terbaik yang bisa kuajak bicara tentang kata-kata, tapi seperti yang selalu kau katakan, denganmu aku boleh bicara apa saja.

di bruges, 
masa lalu seperti berdesakan
hilir mudik dari vlamingstraat
menuju wollestraat

di bruges
orang-orang masih bisa tertawa
di tepian kanal di bawah pepohonan
walau matahari melambaikan tangan
dan angsa-angsa bergegas pulang
masih ada segelas duvel di tangan
dan sepeda menunggu di tepi jalan

di bruges
waktu sekedar bisikan


Semoga harimu indah disana, Petualang. Semoga kesibukan tidak membuatmu lupa untuk kadang berjalan lebih pelan.




Salam dari Bruges,


Aku.







2 Jan 2015

When We Are Home

It is still quite sometimes before we are home, but to plan what we will do later is part of the fun. Or, well, maybe it's just me who think it is... But, after doing some part of our Euro trip, it turns out that I really want to explore my own country, not for what I call "business trip" but for the sake of the journeys itself. It's shameful to know that I've been to most of my country's provinces, but still I don't know it well. So, yes, adventures awaits!

Then these are the things that we want to do when we are finally home, maybe in the next 10 months:

- Climbing the mountain

This is the kind of activity that I have never done before. I am not that brave when it comes to adrenaline. My favourite amusement in Dunia Fantasi is Istana Boneka, which is quite embarasing since I am that afraid to take a ride on roller coaster. When all of my friends are very excited to try any dreadful things in the amusement park, I am content enough just to sit, wait for them and read any books I have in my bag. 

Thus, for me climbing the mountain is very challenging, though I know it's just like an usual afternoon walk for some people. But for me personally, it's like saying to your self that comfort zone is not a good place to grow, yet to get out from that comfort zone is indeed not comfortable. I've even heard that climbing the mountain is like a fight with your own self, whether you will persevere and finish your journey or just be satisfied with whatever result you get.

But still, no matter how challenging it is, life is too short to be spent in such a boring way^^ I have decided then.

- Getting diving license

This is my friend's idea. He thought that we were just too old to climb the mountain, then suggest this adventure. He said that height is somehow too mainstream recently, and suggested depth as an alternative. Well, actually he also mentioned sharks and other scary things about the sea that sounded too much for me. I can't swim and the idea of diving itself is challenging enough, let alone all the sharks and their friends.

And btw, since my friend wants his name to be mentioned here (in the hope that it will appear if someone search his name in Google >.<), I dont think that's a good idea, so I will only mention his initial which is MTA. Well he thinks he is cute and kind, but well, if you want to know the truth, there's nothing better than knowing him in person. The good news is... he just got back on Facebook, so you can just drop me a message if you're interested :p

image taken from here

- Doing island hop.

We have more than 17.000 island and we're still trapped in all those 5 biggest ones. I know it's almost impossible to visit all the islands considering poor infrastructures. But, even, one of the most popular one, an island that has been on my travel agenda for years, is still waiting... It is Belitong, and it will be our first destination. Thinking about its blue beach, white sand and the sun, I'm just as exciting as when I think about Provence and its sun flower field^^

Three are not too many right? Let cross our finger and hope that life is kind enough to let us continue our journey in the place near to our heart, the place we call it home.

23 Dec 2014

Bagaimana Saya Jatuh Cinta Pada Dublin - 2

Dublin adalah kota pertama dengan predikat UNESCO City of Literature yang saya kunjungi. Hanya ada 6 (enam) kota lain di dunia yang menyandang predikat yang sama: Norwich, Edinburgh, Reykjavik, Kraków, Heidelberg, Melbourne, Iowa City, dan Dunedin. Memang tidak banyak kota yang mengasosiasikan dirinya dengan sastra dan literasi. Tapi Dublin berbeda. Mungkin memang saya yang kurang pengalaman, tapi saya belum pernah melihat kota yang memberikan apresiasi begitu tinggi pada para penulisnya.

Mereka yang mencintai sastra pasti akan suka berada di Dublin. Menjadi rumah banyak penulis kawakan, Dublin sangat layak memiliki Dublin Writers Museum. Lalu, seperti sahabat saya yang begitu mengagumi James Joyce, begitu pula kota ini. Dublin dan Joyce seperti dua sisi mata uang. Dublin adalah kecintaan Joyce dan Joyce adalah kebanggaan Dublin. Sayang, ketika saya berada disana, Dublin Writers Museum maupun James Joyce Centre sedang tutup karena libur natal. Tapi, saya sudah cukup bahagia karena saya sempat pergi ke James Joyce Tower and Museum yang terletak di Sandycove, sebuah area suburban Dublin.


Bagaimana Saya Jatuh Cinta Pada Dublin - 1

Mungkin jatuh cinta pada Dublin memang harus pelan-pelan. Dia tidak tampan luar biasa sampai membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Walaupun Dublin bukan pesolek seperti Paris, jelas dia sangat menarik hingga akhirnya saya memutuskan tinggal. Ketika teman-teman saya pulang ke Inggris, saya menambahkan tiga hari di Dublin. Dan Dublin memang mempesona. Tiga hari tentu saja tidak cukup mengenal semua tentang kota ini. Tapi ternyata kota ini begitu memahami saya.

Walter Mosley dulu pernah berkata, “A man’s bookcase will tell you everything you’ll ever need to know about him.” Saya anggap itu benar. Maka saya menyempatkan diri melihat ‘rak buku’ Dublin. 'Rak buku' pertama adalah perpustakaan Trinity College yang tersohor: The Old Library. Saya harus merelakan anggaran belanja tiga hari untuk memasuki tempat ini. Tapi sebagai salah satu perpustakaan yang wajib dikunjungi, saya tahu saya hanya dihadapkan pada dua pilihan: penghematan beberapa hari ke depan atau penyesalan.

Saya paling tidak ingin menyesal.


17 Dec 2014

Dublin dan Fragmen-Fragmen

Kalau saya harus mendeskripsikan masa-masa berseragam putih biru dalam tiga kata, maka saya akan memilih kata-kata ini: buku harian, impian dan Westlife. Di masa ini saya mulai menumbuhkan kebiasaan menulis di buku harian yang sebagian besar isinya adalah tentang mimpi-mimpi. Di masa ini pula saya mengalami fase wajib remaja generasi 90an: menjadi fans boyband yang saat itu sedang trend. Entah kenapa, saya jatuh cinta dengan Westlife. Hampir seluruh dinding kamar saya penuh dengan poster dan pin up mereka, standing image ke-5 personilnya berjajar di atas meja, dan di rak buku, album-albumnya tersusun rapi bersama tumpukan majalah edisi khusus Westlife. 

Sudah 14 tahun sejak saya menyanyikan "Swear It Again" di ujian praktek kesenian SMP, tapi tetap saja, kadang saya masih memutar kembali lagu-lagu mereka dan mengenang masa-masa berseragam putih biru. Sekarang saya sedang di Dublin, mendengarkan lagu-lagu Westlife (seperti yang saya inginkan di bucket list no. 10) dan bertanya-tanya dimana kira-kira di kota ini Nicky Byrne tinggal. Ah, tapi tentu saja bertemu Nicky tidak sesederhana pertemuan Jonathan Trager dan Sara Thomas di film 'Serendipity'. Kalau dulu, melihat konser Westlife di Jakarta dari layar RCTI sudah lebih dari cukup, maka dua hari ini, berkeliling kota Dublin membawa perasaan "Nicky juga pernah disini..." rasanya juga sudah lebih dari cukup.