8 Dec 2014

Teman Perjalanan: Travel Bloggers Indonesia

Belakangan, banyak artikel yang bicara tentang nikmatnya solo traveling. Mereka bilang solo traveling menyenangkan karena kita bisa benar-benar menjadi pengambil keputusan, jam berapa mau kemana berapa lama, semuanya terserah kita. Oh iya, itu benar. Tapi melakukan perjalanan bersama-sama pun tidak kalah menyenangkan. Perjalanan yang dibagi bersama akan menjadi kenangan bersama. Sampai puluhan tahun kemudian, cerita-cerita tentang perjalanan itu masih akan beredar di pertemuan-pertemuan nostalgia, ditemani sepiring singkong goreng dan teh manis hangat.

Mungkin karena itu komunitas travel banyak muncul. Karena menikmati perjalanan bersama teman itu menyenangkan. Karena berbagi cerita sesama pejalan berarti tidak hanya berbagi pengalaman, tapi juga tempat para pejalan bisa belajar. Karena traveling bukan hanya tentang melihat dunia, tapi juga tentang interaksi dengan manusia yang berbeda-beda. Oh ya, tentu saja, karena dunia ini terlalu luas untuk dijelajahi sendiri. Kaki kita tidak mungkin menapaki seluruh kota, menaiki seluruh gunung, atau menyelami semua danau dan lautan. Mata kita juga tidak mungkin melihat semua hutan dan padang. Mulut kita juga tidak bicara semua bahasa. Tapi kisah-kisah dari teman-teman perjalanan akan membawa kita menuju tempat-tempat yang belum pernah kita jelajahi.

A Walk to Remember

Bahkan Matjaz dan teman-temannya belum pernah mendengar ada kota bernama Laufenburg di Swiss. Mereka menyarankan kami pergi ke Colmar atau Strasbourg di wilayah Perancis. Kedua kota itu memang cukup dekat dengan Basel, kota di perbatasan tiga negara: Swiss, Jerman dan Perancis. Bahkan Euro Airport Basel-pun memiliki jalur keluar ke tiga negara tersebut. 

Tapi kami cuma punya waktu sehari untuk jalan-jalan, padahal mencapai Colmar dan Strasbourg butuh waktu lumayan. Kalau dipikir-pikir, menghabiskan waktu di perjalanan sungguh bukan ide yang bagus. Lebih masuk akal rasanya untuk mengunjungi Laufenburg yang hanya berjarak 30 menit perjalanan dari Basel dengan kereta, walaupun kota ini kami pilih secara sporadis hanya berdasarkan info dari internet.

Matjaz akhirnya menyarankan agar kami mampir ke Bad Sackingen dalam perjalanan kami ke Laufenburg. Sayangnya kota itu ada di wilayah Jerman. Beda dengan Swiss dan Perancis yang tidak membutuhkan visa untuk pemegang paspor biru, masuk ke Jerman harus punya visa Schengen. 

"But it's nobody there who will check your visa," kata Matjaz. 

3 Dec 2014

It's a Beautiful Day!

Dan setelah Edensor, kini bucket list No. 7 saya sudah terpenuhi!

Rasanya spesial, karena ternyata ini adalah hadiah natal yang sudah saya impikan sejak, paling tidak, dua tahun lalu. Siapa yang menyangka kalau saya pernah membuat status ini di akun facebook, dan dua tahun kemudian, status main-main itu menjadi kenyataan. Bahkan sebenarnya saya sudah melupakan status ini, sampai ketika tiket konser Michael sudah di tangan saya.


Kadang saya merasa hidup ini memang rangkaian kebetulan yang menyenangkan. Kebetulan saya membaca status teman di Path tentang kegagalannya mendapatkan tiket Michael Buble di Melbourne. Karena itu, saya iseng mencari tahu jadwal tour Michael Buble dan kebetulan rangkaian UK tour-nya dilakukan akhir tahun ini. Lalu kebetulan pula, di awal Desember, dia konser di Birmingham, kota yang cukup dekat jaraknya dengan tempat saya tinggal. Kebetulan kondisi finansial saya cukup untuk membeli tiket yang cukup dekat dengan panggung.

Dua tahun lalu, bahkan kalau Michael Buble datang ke Jakarta, saya tahu saya tidak akan mampu memperjuangkan, bahkan tiket kelas yang paling rendah sekalipun. Sungguh, ada yang lebih memahami waktu dan semua hukum sebab akibat dalam hidup saya.

Akhirnya ketika lampu-lampu hias sudah dipasang di jalanan Birmingham, ketika toko-toko mulai memutar lagu Natal dan ketika Christmas Market mulai diadakan, saya menonton konser Michael Buble. Hadiah Natal yang datang lebih awal. Hadiah Natal terbaik yang selama ini saya harapkan.

Saya bahagia. Seperti lirik yang dinyanyikan Michael di lagunya,

"It's a beautiful day and
I can't stop myself from smiling"

Berbahagialah, hidup punya 1000 cara misterius untuk memenuhi harapanmu, bahkan harapan yang paling tidak serius sekalipun.



30 Nov 2014

A Place Where Your Dreamling is Repaid


Sepanjang perjalanan menuju Sheffield, ada satu pertanyaan yang muncul di benak saya, “Where do dreams come from?"

Mungkin kalau Andrea Hirata, mimpi itu muncul dari sebuah buku pemberian cinta pertamanya, If Only They Could Talk karya James Herriot. Dari buku itu, ia pertama kali melihat Edensor, meskipun masih dalam bentuk imajinasi. Lalu beranjak dewasa, mimpi itu menemukan pegangannya dari nasihat Pak Balia, "Murid-muridku, berkelanalah, jelajahi Eropa, jamah Afrika, temukan mozaik nasibmu di pelosok-pelosok dunia. Tuntut ilmu sampai ke Sorbonne di Perancis, saksikan karya-karya besar Antoni Gaudi di Spanyol."

Mimpi kecil Andrea lalu menjelma amuba, membelah diri menjadi mimpi-mimpi yang semakin lama semakin nampak mustahil.

Tapi mimpi memang hanya diperuntukkan bagi para pemberani.

Lamunan saya tiba-tiba teralihkan dengan puisi karya Andrew Motion yang ditulis di salah satu gedung Universitas Sheffield Hallam, berjudul What If. Puisi ini benar-benar ditulis di salah satu dinding gedung itu, begitu besar hingga mereka yang melintas di jalan raya bisa dengan jelas membacanya.


18 Nov 2014

Cerita Tentang Rumput Tetangga

Saya bertemu Matjaz di situs Couchsurfing ketika saya sedang mencari tumpangan di Basel, Switzerland. Dia berbaik hati menawarkan tempat untuk kami, saya dan Adhib, bermalam di flat mungilnya. Pria Slovenia berusia 40 tahun ini tinggal bersama Karmen, pasangannya yang masih berumur 28 tahun, tidak jauh dari SBB Station. 

"How did you guys meet each other?", tanya saya ketika kami menghabiskan waktu di Papa Joe's Bar.

Matjaz tertawa, "Tanyalah pada Karmen. Versinya lebih romantis."

Sayang Karmen tidak lancar berbahasa Inggris. Akhirnya Matjaz menjelaskan dengan singkat, mereka bertemu secara kebetulan, jatuh cinta dan tinggal bersama.


Matjaz dan Karmen ketika mengantar kami menyusuri Sungai Rhine

"Tidak terasa sudah sembilan tahun kami bersama. And we're not married.", begitu kata Matjaz. "Disini tidak ada bedanya menikah maupun tidak."