24 Oct 2014

Diwali : A Night of Light... and Dance!

Apa yang ada di pikiranmu ketika mendengar tentang 'perayaan orang India'?

Kalau saya, saya akan membayangkan kerumunan orang dan tari-tarian. Seperti yang sering saya lihat di film-film India yang dulu sering diputar di televisi nasional kita. Dan ternyata, apa yang saya temui di Diwali - perayaan tahun baru India - memang seperti itu.

***

Memasuki Belgrave Road, sayup-sayup saya mendengar musik khas India. Belgrave Road dan sekitarnya adalah kawasan komunitas India di Leicester, Inggris. Mungkin seperti Little India di Singapura. Sebulan tinggal di Leicester, saya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di area ini. Padahal, Belgrave Road berada tidak terlalu jauh dari City Centre. Hanya sepelemparan batu.

Malam ini kami datang ke Belgrave Road untuk melihat perayaan Diwali, tahun baru orang India. Saya ingin mengatakan tahun baru Hindu, tapi setahu saya umat Hindu di Bali tidak merayakan Diwali. Bisa saja karena Hindu Bali tidak sama dengan Hindu India. Atau mungkin ini semata saya yang kurang informasi. Dunia yang luas ini memang penuh dengan hal-hal yang belum saya mengerti.


22 Oct 2014

Kadang, Kita Hanya Perlu Melompat Keluar Dari Perahu.

Dulu saya pernah membaca tentang seseorang yang selama hidupnya tidak pernah melakukan perjalanan karena dia terlalu banyak mempertimbangkan. Dia mempertimbangkan kesibukan, isi tabungan, juga tantangan berkelana sendirian. Pendek kata, dia memikirkan apakah keluar dari zona nyaman itu bijaksana.

Mempertimbangkan tentu tidak salah. Tapi, kalau terlalu banyak, bukankah itu seperti menyembunyikan hidup dari kejutan? Kadang mempertimbangkan justru membuat kita ketakutan. Lalu akhirnya kita memutuskan menjalani hidup tanpa petualangan. Kalau seperti ini, siapa yang bisa menjamin kita tidak menyesal?

Mungkin karena saya seorang yang spontan, saya sangat setuju dengan Lewis Caroll,

"No, no! The adventure first, explanations take such a dreadful time,"


28 Sept 2014

Paris, encore!

Saya sudah tidak ingat apa yang diceritakan oleh Ernest Hemingway di bukunya The Moveable Feast, kecuali satu quote ini...


"If you are lucky enough to have lived in Paris as a young man, then wherever you go for the rest of your life, it stays with you, for Paris is a moveable feast."

Empat tahun yang lalu, saya cukup beruntung bisa menikmati Paris selama tiga bulan. Mungkin memang karena itu, because wherever I go for the rest of my life - Paris stays with me, saya memutuskan singgah di Paris dalam perjalanan Jakarta - London. Seakan perjalanan 14 jam Jakarta - Paris tidak melelahkan, saya menambahkan 11 jam transit di Paris. Total perjalanan saya 27 jam dengan transit sejenak di Singapura.

Apa artinya berada di Paris untuk kedua kalinya?

Artinya saya menemukan Paris masih beraroma dedaunan. Saya juga menemukan Paris masih berwarna keemasan walaupun musim gugur belum sepenuhnya datang. Saya merasa saya sudah tidak lagi ketakutan, karena saya tahu, sepanjang saya bisa menemukan stasiun metro, saya akan selalu bisa kembali ke bandara.




Lalu saya mulai mengamati orang-orang. Banyak pasangan mengambil foto pre-wedding mereka di Menara Eiffel. Antrian pengunjung yang ingin naik ke puncak masih saja panjang. Rombongan remaja melakukan group photo, sepertinya mereka sedang melakukan study tour. Ada pria paruh baya berpakaian badut mencoba menarik perhatian para turis. Dengan rias wajah seperti itu, meskipun tak ada seorangpun tertarik padanya, dia tetap tersenyum. 

Paris adalah sebuah ironi. Di dalam frame yang sama, saya menemui rombongan manula kaya yang menghabiskan uangnya untuk melihat Eiffel. Sementara, tidak jauh dari mereka, ada pria, miskin, tanpa rumah, tidur di tepi jalan dengan pantat hampir kelihatan. Dia sama sekali tidak terlihat peduli dengan kerangka besi raksasa di depannya. Kadang, Paris terlihat menyedihkan.





Seperti ketika hujan mulai turun di daerah Rue de Rivoli, tepat ketika saya akan keluar dari Metro Anvers menuju Jardin de Tuileries. Padahal di kawasan Notre Dame yang baru saja saya datangi, langit berwarna biru dan matahari sangat bersahabat. Semuanya cukup menghibur meskipun saya tidak berhasil menemukan Paris titik nol. Konon, kalau kamu menginjaknya, kamu akan kembali ke Paris. Saya melakukannya empat tahun yang lalu.





Tapi saya tidak menyesali 23 Euro yang saya habiskan membeli Paris Visite Pass untuk satu hari. Satu tiket untuk naik metro sesuka hati. Saya mengunjungi Eiffel, Trocadero, Notre Dame de Paris, Bastille, Jardin de Tuileries, dan Place de La Concorde. Beberapa sudah saya kunjungi sebelumnya, tapi berjalan di tepian Sungai Seine saja, mengamati daun-dauh jatuh di bawah sepatu saya, tidak pernah jadi terlalu membosankan. 



Karena di Paris, berjalan tanpa tujuan bukanlah masalah. Wherever you go, in Paris, it doesn't matter.





18 Jun 2014

Jepang : Mencari Jalan, Menemukan Kebaikan

Berada di Jepang, bahkan memiliki alamat pun seperti tidak berguna. Apalagi untuk saya yang tidak mahir membaca arah. Yang membaca peta tanpa tahu apakah utara berada di kiri atau kanan. Yang merasa google maps tidak cukup canggih karena toh saya tetap tidak bisa menemukan tempat yang saya tuju. Alamat di tangan saya memakai alphabet latin, sementara nama jalan di sekeliling saya dengan hiragana, katakana, atau bahkan kanji. Ketika saya keluar dari stasiun kereta, melihat huruf-huruf yang meliuk-liuk seperti sabetan samurai, saya tidak tahu apakah saya sudah dekat atau masih jauh.

Pertanyaannya bukan lagi, dimana tempat yang akan saya tuju? Pertanyaannya bertambah, dimana saya berada?

Suatu malam, menemukan jalan kembali ke hotel menjadi begitu membingungkan. Seorang pria lewat dan saya bertanya kepadanya. Dia tidak bisa bahasa Inggris, dan dari bahasa tubuhnya, dia tidak tahu hotel yang saya maksud. Saya merasa hopeless dan membiarkan pria itu berlalu. Untung kemudian saya bertemu beberapa orang teman. Kami berhenti sejenak sambil menunggu teman-teman yang lain.

Tidak berapa lama, pria yang saya tanyai tadi kembali. Dia menghampiri saya dan dengan terbata menerangkan arah hotel yang tadi saya tanyakan. Saya kaget. Saya menerangkan kepadanya saya sudah bertemu teman-teman saya. Dia nampak bingung. Akhirnya saya hanya bisa bilang, "It's ok, thank you so much." Dia tersenyum dan berlalu.

Sebenarnya saya memahami kalau dia tidak bisa menolong saya. Saya tidak menyalahkan ketidakmampuannya berbahasa dan memahami saya. Saya sudah membiarkan pria itu pergi. Tapi, saya terkejut dia kembali. Ternyata dia begitu ingin menolong saya, orang asing yang kebingungan mencari jalan pulang. Saya merasa saya istimewa.

Dan perasaan istimewa itu kembali saya rasakan ketika, sekali lagi, saya mencari sebuah toko di kawasan Shibuya. Saya mencoba bertanya kepada seorang gadis, dan lagi, dia tidak mengerti apa yang saya katakan. Saya sudah menyerah, hampir meninggalkan dia, ketika dari belakang ada yang bertanya, "Do you need translations?" Saya menoleh, dan menemukan seorang pria muda bersama pasangannya. Saya menerangkan tempat yang saya cari dan dia menjelaskannya kepada gadis pertama. Gadis itu mengangguk-angguk dan nampak mencari sesuatu di telepon genggamnya. Dia tersenyum lalu bicara dengan bahasa Jepang kepada pria itu. Pria itu menatap saya dan berkata, "The shop is close, this girl will take you there..." Lagi, saya terkejut, gadis itu cukup menunjukkan arahnya. Tapi, dia memilih mengantar saya. Saya sungguh merasa istimewa.

Di Jepang, saya memahami satu hal. Benar, kebaikanlah yang membuat sebuah tempat, seberapapun asingnya, menjadi terasa seperti rumah. Kebaikan dari mereka yang melakukan perjalanan bersama denganmu, atau kebaikan dari orang-orang asing yang kebetulan kau temui. Dan kebaikan-kebaikan itu sederhana. Sesuatu yang mudah dilakukan. Yang diberikan dan didapat dengan cuma-cuma.

Di Jepang saya belajar apa artinya menjadi ramah. Menjadi baik. Menjadi tuan rumah. 



Jakarta, 18 Juni 2014.

17 Jun 2014

Hey, you, stranger...

hey, you,
stranger who said I was tough,
how did you know?
the fact that I am not tough enough to send you back to the past,
to the time when our paths have not crossed each other,
bumping so gentle,
yet eversince,
my heart has been restiving unstoppable



Jakarta, 17 Juni 2014