4 Nov 2015

Apa yang Diubah Oleh Rindu

Kau tahu apa yang diubah oleh rindu?

Aku bisa membayangkan kau menggelengkan kepala dan menggerutu karena pertanyaanku yang aneh itu.

Jadi, gambarannya seperti ini. Hari saat aku pulang ke Indonesia, Jakarta masih macet. Perjalanan dari Cengkareng sampai ke hotel tempat aku menginap di bilangan Cikini memakan waktu tidak kurang dari 3 jam. Aku capek. Tapi, kau tahu apa yang terjadi? Entah kenapa aku menikmati keriuhan Jakarta kali ini. Aku tidak mengeluh ketika taksi yang membawaku hanya bisa bergerak perlahan. Yah, aku memang bukan tipe perempuan yang suka mengeluh.  Tapi bukan karena itu. Sederhananya, kemacetan sekarang rasanya tidak mengganggu. Itu saja.

Bahkan ketika aku berjalan dari hotel menuju Menteng Huis, rasanya menyenangkan. Aku mencium aroma masakan dari warung-warung di pinggir jalan. Sekali lagi aku merasakan Jakarta dari pemandangan deretan bajaj yang diparkir di tepi jalan. Beberapa pengemudinya bergerombol sambil tertawa-tawa. Yang lain tertidur di belakang kemudi sambil sesekali menyeka keringat dengan handuk yang tergantung di leher. Rasanya menyenangkan melihat mereka.

Lalu, melewati Taman Ismail Marzuki, aku melihat sekumpulan anak nongkrong. Sepertinya aku belum pernah menceritakannya padamu. Dulu di kompleks seni ini aku dan beberapa sahabat sering menonton teater atau konser, salah satu strategi kami agar tidak gila diantara kesibukan Jakarta. Tapi aku dulu tidak pernah suka melihat rombongan pemuda tanggung yang bermain bola di pelataran TIM, makan sambil bersila begitu saja di tanah dan bicara dengan suara keras. Aku tidak suka riuh, dan mereka terlalu riuh. Tapi entah kenapa malam itu rasanya menyenangkan melihat mereka.

Mungkin karena suasana seperti ini lama sekali tak kutemui. Jadi sekarang, betapapun dulu kurasa menyebalkan, rindu telah mengubahnya menjadi menyenangkan.

Saat bertemu lagi nanti, rindu pasti melakukan hal yang sama pada kita.

Kau mengerti?



No comments:

Post a Comment