19 Sept 2012

Perjalanan Berjalan Kaki

Membaca buku tentang perjalanan selalu membuatku ingin pergi ke suatu tempat. Menikmati menjadi asing. Menikmati menjadi penasaran. Dan menikmati menjadi bahagia karena saat pulang aku tahu aku sudah jadi manusia yang, kurang lebih, berbeda.

Dan beberapa hari kemarin, karena buku perjalanan itu, aku melewatkan halte busway dimana aku seharusnya turun. Jarak dari halte berikutnya ke kantor memang tidak bisa dibilang dekat. Tapi pagi itu, matahari bersinar hangat. Jakarta masih menunjukkan sisi ramah. Waktu juga masih menyediakan ruang untuk aku sekedar menikmati jalanan.

Jadi akhirnya kuputuskan berjalan kaki ke kantor.

4 Sept 2012

Mimpi Menjelang Pagi

apa yang kulakukan akhir-akhir ini?

bekerja.bekerja.bekerja.membaca.membaca.membaca.menulis.menulis.menulis.
belajar.belajar.belajar

seharusnya aku terlalu lelah untuk bermimpi,
tapi kenapa kau datang lagi saat hari menjelang pagi?


30 Aug 2012

Sangria Wine

Ketika aku membuka pintu kamar, kau dan istrimu berdiri berdampingan dengan raut menenangkan. Tidak ku tangkap sedikitpun keheranan di wajahmu meskipun aku berdiri dengan mata sembab dan hidung merah. Kalian masuk bahkan tanpa kupersilakan.

Masih belum ada ucapan apapun?" tanyamu.

Aku menggeleng lesu.

Sekilas aku melihatmu ekspresimu. Kukira aku akan mendengar lagi segala nasehatmu soal lebih baik aku tidak lagi memikirkan dia. Tapi tidak, kau tidak mengatakan apapun. Kau justru mengaduk-aduk ranselmu dan mengeluarkan sesuatu. Sebotol minuman.

Tentang Perahu Kertas

Banyak orang bilang Perahu Kertas mengecewakan mereka karena tidak seberat Supernova. Bagi mereka Perahu Kertas biasa saja bila dibandingkan dengan Supernova. Mungkin karena Perahu Kertas tidak rumit. Mungkin karena Perahu Kertas tidak aneh. Mungkin karena Perahu Kertas tidak menyengat seperti listrik di tubuh Elektra atau mengagetkan seperti sosok Bodhi yang penuh dengan tato.

Mungkin...

Tapi untukku, Perahu Kertas tetaplah perahu yang layak untuk diikuti kemana ia berlayar. Dia memang bukan Titanic yang dengan gagah berlayar di Pasifik. Perahu Kertas mungkin hanya perahu biasa yang berlayar di sungai kecil tak bernama, membawa kita ke tempat yang mungkin bahkan tidak ada di dalam peta. Dermaganya bukanlah dermaga yang membuat kita terpesona, tapi dermaga yang membuat kita merasa seakan kita pernah kesana sebelumnya. Nama dermaga itu Deja Vu.

Dreamy Path

Dua hari yang lalu, aku bangun pagi dan merasa sangat lelah. Jadi aku memutuskan tidak masuk. Bolos? Entahlah. Yang jelas aku mengirimkan pesan kepada atasan, "Sepertinya saya masuk angin, pak." dan bosku yang iseng itu malah menyuruhku bersiul. And my face was like this (-.-")  

Akhirnya aku tidur sampai siang lalu memutuskan pergi ke Blom M. Di Plaza Blok M ada spa-house yang baru dibuka. Sedikit pijatan mungkin akan membuat aku lebih rileks. Pijatannya tidak seenak mbok-mbok yang biasa ku panggil ke rumah. Tapi lumayan. Punggungku sudah tidak  terasa seperti lempengan besi. Setelah itu creambath, tidak senyaman yang diharapkan tapi pijatan di punggung selalu menyenangkan. Aku seperti di-recharge kembali.