7 Jun 2015

Apa yang Kita Lakukan di Penghujung Minggu

Dan mereka bertanya apa yang kita lakukan di penghujung minggu. Tidak banyak kataku. Kau membangunkanku pagi-pagi, lalu kita bertemu untuk sarapan. Menjelang siang kita pergi ke penjahit, belanja, makan siang, memasak, duduk berdua di sofa menonton bulu tangkis dan pertandingan bola, lalu pergi mengunjungi seorang teman.

Apa lagi?

Oh, kau memarahiku karena aku tidak juga menghabiskan susu di gelasku. Dan aku harus berkali-kali mengingatkanmu agar mencuci tumpukan piring. 

Sungguh, bersamamu adalah tentang melewatkan hari seperti biasa. Sewajar pagi dan sewajar petang. Sewajar waktu. 

Sehangat perasaan. 


Gambar diambil dari sini


*terinspirasi salah satunya oleh ilustrasi-ilustrasi karya Puung tentang menemukan cinta dalam keseharian.




#MenulisRandom2015
#HariKelima

5 Jun 2015

Cinta yang Bijaksana

Mungkin jatuh cinta paling bijaksana adalah jatuh cinta dengan tangan terbuka. Jatuh cinta yang dilalui dengan mengharap tanpa memaksa. Kadang bahkan dilalui diam-diam dan membiarkan hidup menjadikannya rahasia. Sehingga bila nanti pertanda tak mampu lagi disembunyikan, jawaban tidak dinanti dalam ketakutan.

Mungkin cinta paling bijaksana adalah cinta yang membebaskan. Cinta yang diserahkan pada semesta. Sehingga hari-hari bersama adalah tentang tawa dan senyuman tanpa beban. Sehingga bila nanti memang ada yang harus pergi, perpisahan tidak dijalani dalam ketakutan.

Aku ingin menjadi bijaksana. Jatuh cinta dengan tangan terbuka. Dengan cinta yang membebaskan.

Aku ingin mencintaimu tanpa ketakutan.




#MenulisRandom2015
#HariKeempat

4 Jun 2015

Mengapa Kali Ini Aku Tidak Menangis

Mungkin selama ini kita memang terlalu sering menangis untuk hal-hal yang tidak perlu. Entahlah. Misalnya saja, kita sering menangisi masa lalu. Seperti menarik kembali agenda berdebu dari rak paling atas dan menggali kembali sesal untuk kisah yang tak bisa lagi kita tulis. 

Tapi apa yang kita anggap perlu ditangisi bisa jadi berbeda. Untukmu, mungkin itu adalah prestasi dan penghargaan. Untukku, mungkin itu adalah orang-orang terdekat. Hatimu selalu tahu memilih mana yang perlu, bahkan saat kau sendiri tidak tahu. Mungkin itulah kenapa kadang air mata keluar tanpa diperintah.

Jadi jika kau bertanya kenapa kali ini aku tidak menangis, mungkin karena aku tahu menangis tidak mengubah apa-apa, jadi hatiku tidak benar-benar memandangnya perlu. Jika ada hal yang tidak dapat kita ubah, menangislah jika kau ingin, tapi setelah itu, terimalah. Jika kau bisa menerima tanpa air mata, tidak ada perlunya bertanya kenapa.

Tapi bukankah menangis tidak selalu dengan air mata? Beberapa mengasingkan diri, beberapa merangkai kata, beberapa mencari pelukan. Seperti kemarin, saat kau bilang padaku kau ingin menangis tapi tidak bisa, mungkin kau tidak sadar kau sedang menangis dengan berbagi keluhan.

Jadi kalau nanti kau masih bertanya mengapa kali ini aku tidak menangis, mungkin aku akan memperkenalkanmu kepada bahasa air mataku.




#MenulisRandom2015
#HariKetiga

3 Jun 2015

Sejenak

mungkin kita perlu sejenak memberi ruang pada waktu
membiarkannya menerjemahkan setiap pertanda:
setiap pandang mata, setiap sentuhan kecil
dan setiap tawa saat berjumpa

karena mungkin semua tentang kita
adalah tentang menjadi terbiasa
sehingga kita lupa mengeja hari-hari
ketika setiap ingin menjelma rindu
dan setiap harap menjelma syahdu




Leicester, Juni 2015



#MenulisRandom2015
#HariKedua

1 Jun 2015

Mungkin Aku Hanya Ingin Jatuh Cinta Pelan-Pelan

"Jangan katakan kau sedang menunggu sesuatu yang magis..." 

"Magis?" tanyaku tak mengerti. Kami berdua sedang berbelanja di supermarket dan entah kenapa pembicaraan beralih ke soal jatuh cinta. Seingatku kami tadi sedang membicarakan artis baru yang mendadak tenar karena sensasi. 

Temanku melanjutkan, "Seperti di film-film. Jatuh cinta yang terasa seperti keajaiban. Mungkin cinta pada pandangan pertama. Atau sesuatu seperti... serendipity? Kau tahu, ketika semesta tiba-tiba membawa seseorang dari masa lalu datang kembali, padahal kalian sama sekali tidak saling mencari."

Aku mendengarkan sambil memilih-milih buah plum. "Hmm, tidak juga," sahutku.

"Lalu?" Di belakangku temanku sibuk dengan helai-helai daun bawang.

"Mungkin aku hanya bosan dengan skenario," kataku cepat. "Pria-pria yang sibuk mencari strategi untuk menarik perhatianku. Membombardir ponselku dengan pertanyaan-pertanyaan, ketika kami baru bertemu sekali dua kali, dan bahkan ketika kami belum banyak bicara saat bertatap muka. Memangnya tidak ada topik lain selain bertanya aku sedang apa, dimana, dan dengan siapa?"

Temanku tertawa. "Jadi jatuh cinta seperti apa yang kau inginkan?"

"Mungkin aku hanya ingin jatuh cinta pelan-pelan," kataku lambat-lambat sambil mulai memasukkan beberapa buah plum ke dalam plastik dan berpindah ke rak yang mewadahi tumpukan jamur. "Entahlah," kataku lagi ketika menangkap keheranan di mata temanku itu. "Mungkin jatuh cinta yang sederhana, yang hampir tidak terasa. "

"Aku masih tidak mengerti," sahut temanku sambil berjalan menuju lorong sebelah.

Aku berlari menyusulnya. Belanjaanku sepertinya sudah lengkap. Kali ini aku hanya mengikuti temanku mencari bahan-bahan kue cokelat yang akan kami buat. "Maksudku, mungkin selama ini kalian tinggal di daerah yang berdekatan, kalian melewatkan waktu di tempat yang sama, mungkin kalian pernah berpapasan, tapi tentu saja kalian tidak saling menyadari."

Aku melanjutkan penjelasanku. "Lalu kalian tiba-tiba dipertemukan oleh kehidupan. Pertemuan yang biasa, wajar, yang mungkin bahkan tidak meninggalkan kesan. Tapi, perkenalan itu seperti awal sebuah puzzle, hanya saja kau tidak sadar kau sedang menyusun sebuah puzzle. Setiap hari, dalam setiap pertemuan dan pembicaraan, kau menemukan kepingan-kepingan baru. Ketika puzzle itu semakin lama semakin tersusun, kau mulai merasa semuanya menarik, dia dan apa yang terjadi di antara kalian. Lalu yang kau tahu, melewatkan waktu bersama rasanya menyenangkan. Kau mulai merindukannya, dan, walaupun puzzle-nya belum lengkap, tiba-tiba kau sadar kau jatuh cinta. Itu saja."

Temanku memukulku pelan dengan botol susu. "Itu juga skenario, padahal kau bilang kau bosan dengan skenario..."

Aku hanya mengangkat alis. "Setidaknya itu bukan skenario bikinan cowok-cowok kurang kerjaan," seruku gemas. "Entahlah, orang kadang mendefinisikan jatuh cinta sebagai sebuah usaha. I don't know. Mungkin aku menunggu seseorang yang membuat semuanya seperti effortless."

"Contohnya?" tanya temanku penasaran.

"Misalnya, seseorang yang membuatmu nyaman bicara berdua saja tanpa kau sadar kau sudah melewatkan waktu bersamanya selama berjam-jam. Padahal tidak ada satupun di antara kalian yang membuat list topik dan semacamnya. Atau seperti ini, untuk kalian berdua setiap perjalanan terasa singkat karena kalian begitu menikmatinya, padahal mungkin kalian tidak memastikan semuanya persis seperti rencana."

Dari ekspresi temanku, sepertinya dia mulai mengerti. "Jadi kau ingin jatuh cinta dengan wajar dan apa adanya, yang terjadi begitu perlahan sampai tidak terasa, begitu? Yang sama sekali tidak magis? " tanyanya.

Aku tersenyum dan mengangguk. "Iya, mungkin karena cinta itu sendiri sudah cukup magis," sahutku.

Sepertinya keranjang belanja temanku penuh bersamaan dengan selesainya obrolan tentang jatuh cinta ini. Kami bergerak menuju kasir dan entah bagaimana kami kembali membicarakan artis tenar penuh sensasi yang kabarnya baru saja menikah dengan pria kaya beranak dua.








*tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti #NulisRandom2015 yang digalakkan oleh penggagas Komunitas Nulisbuku. #NulisRandom2015 berarti kita harus menulis apa saja setiap hari selama bulan Juni 2015. Keterangan lebih lanjut bisa dibaca disini.