Mungkin jatuh cinta pada Dublin memang harus pelan-pelan. Dia tidak tampan luar biasa sampai membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Walaupun Dublin bukan pesolek seperti Paris, jelas dia sangat menarik hingga akhirnya saya memutuskan tinggal. Ketika teman-teman saya pulang ke Inggris, saya menambahkan tiga hari di Dublin. Dan Dublin memang mempesona. Tiga hari tentu saja tidak cukup mengenal semua tentang kota ini. Tapi ternyata kota ini begitu memahami saya.
Walter Mosley dulu pernah berkata, “A man’s bookcase will tell you everything you’ll ever need to know
about him.” Saya anggap itu benar. Maka saya menyempatkan diri melihat ‘rak
buku’ Dublin. 'Rak buku' pertama adalah perpustakaan Trinity College yang tersohor: The Old Library. Saya harus merelakan anggaran belanja tiga hari untuk memasuki tempat ini. Tapi sebagai salah satu perpustakaan yang wajib dikunjungi, saya tahu saya hanya dihadapkan pada dua pilihan: penghematan beberapa hari ke depan atau penyesalan.
Saya paling tidak ingin menyesal.
